Blak-blakan Oliver Prasetyo

WNI Diaspora Alami Rasisme di Dunia Tentara hingga Modeling

Sudrajat, Deden Gunawan - detikNews
Jumat, 02 Apr 2021 07:15 WIB
Jakarta -

Sikap rasisme terhadap warga keturunan Asia di Amerika Serikat (AS) yang banyak terjadi dalam beberapa hari terakhir ini seperti fenomena bola salju. Sebab, sejatinya, dalam kehidupan sehari-hari di sana, sikap rasisme itu sudah lama terjadi seperti api dalam sekam. Bukan cuma di ruang publik, di lingkungan tempat kerja pun sikap rasisme itu kerap terjadi.

"Sewaktu enam tahun bekerja di lingkungan infanteri, saya mengalami stereotipe, di-bully yang mengarah ke rasisme," kata Oliver Prasetyo, warga keturunan Indonesia yang lahir dan besar di New York, kepada tim Blak-blakan detikcom, Kamis (1/4/2021).

Menghadapi situasi seperti itu, dia mengaku memilih diam dan ikut tertawa saja meskipun hatinya terluka. Oliver mengaku sempat merasa malu dan minder kenapa terlahir sebagai orang Asia yang punya fisik dan warna kulit berbeda.

Ketika kemudian terjun ke dunia model beberapa tahun lalu, dia pun tak mudah menjalaninya. Sebab, industri fashion di Amerika banyak yang tak mau memakai model pria Asia. "Kalau sekarang memang sedang hits menggunakan model Asia, tapi ketika saya mengawalinya itu sulit sekali," kata Oliver, yang pernah menjadi model produk GAP.

Di tengah pandemi dalam setahun terakhir ini, setidaknya dua kali dia mengalami rasisme. Salah satunya saat dalam perjalanan menggunakan kereta tiba-tiba ada orang yang menyebutnya "China Virus" dan "Kungflu". Untuk mencegah keributan dan kemungkinan orang tersebut membawa senjata tajam, Oliver memilih pindah tempat ke gerbong lain.

Dia menduga sikap rasisme itu tak lepas dari apa yang pernah dilakukan Donald Trump semasa menjadi Presiden AS. Di bulan-bulan awal masa pandemi, Trump pernah menyebut virus Corona yang berasal dari Wuhan sebagai "China Virus" dan "Kungflu".

"Jadi orang-orang itu melakukannya karena Presiden Trump pernah begitu, jadi ini bahaya sekali," kata Oliver Prasetyo.

Lama-lama dia tak lagi mau diam. Bersama sejumlah temannya dia menggalang aksi unjuk rasa menentang sikap anti-Asia. Pesertanya mencapai 10 ribuan orang dan diikuti sejumlah tokoh keturunan Asia sehingga mendapat liputan luas dari media.

Pada bagian lain, dia juga mengungkapkan bahwa rasisme di AS sebetulnya sudah terjadi sejak masa Perang Dunia. Apa saja indikasinya? Selengkapnya, saksikan Blak-blakan Oliver Prasetyo, "Rasisme dia Amerika Terinspirasi Donald Trump" di detikcom, Jumat (2/4/2021).

(jat/jat)