Kerja Sama dengan NU, Anies Bakal Bangun Musala di Halte TransJakarta

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Kamis, 01 Apr 2021 19:40 WIB
Anies Baswedan.
Anies Baswedan (YouTube Pemprov DKI Jakarta))
Jakarta -

Pemprov DKI berencana membangun sejumlah musala di setiap halte TransJakarta dan stasiun. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan penambahan fasilitas publik itu demi mendukung aktivitas warga.

Hal itu dipaparkan Anies dalam acara Penandatanganan Kesepakatan Bersama PT Transportasi Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia tentang Kolaborasi Tridharma Perguruan Tinggi yang disiarkan secara virtual. Anies awalnya memaparkan Pemprov DKI tengah mengembangkan sistem transportasi terintegrasi yang disebut Jak Lingko.

Melalui sistem tersebut, lanjut Anies, masyarakat bisa berpindah-pindah moda transportasi dengan hanya membayar 1 kali perjalanan selama 3 jam sehingga Anies menilai keberadaan musala di dalam halte ataupun stasiun sangat membantu warga.

"Ini harapannya akan ada desain-desain musala di dalam halte, di dalam stasiun yang memfasilitasi jutaan warga Jakarta yang sore hari pulang sehingga tidak lagi kesulitan salat Magrib. Karena salat Magrib waktunya paling mepet, kalau (yang) lain masih ada waktu longgar," kata Anies, Kamis (1/4/2021).

Nantinya, rancangan pembangunan musala di stasiun dan halte akan dilakukan bersama Universitas Nahdlatul Ulama. Dia menyakini upaya ini mampu mendorong warga untuk beralih ke transportasi umum.

"Begitu sistemnya menjadi satu kesatuan, maka orang masuk tuntas 3 jam. Di situ ruang itulah kemudian kerja sama TransJakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta harapannya bisa dikaji sama-sama pendekatan terbaik," jelasnya.

Dalam kesempatan ini, Anies menjelaskan betapa pentingnya sistem transportasi terintegrasi diimplementasikan di Ibu Kota. Dia memandang warga DKI kerap menghabiskan pengeluarannya hanya untuk ongkos transportasi.

"Di Jakarta ini hampir, bisa dikatakan pengeluaran keluarga bisa sampai 30 persen untuk transportasi, jadi terima uang bulanan itu 30 persen itu bisa habis untuk transportasi. Kenapa? Karena transportasi umum, massal tidak terbangun dengan baik," tegasnya.

"Dengan cara seperti ini alhamdulillah dari mana saja, bisa pergi kemana saja itu satu biaya. Biaya Rp 5.000 dengan biaya segitu selesai semua. Begitu ini kita lakukan apa yang terjadi di Jakarta? Tahun 2016 akhir tahun, jumlah ridership per hari 340 ribu orang yang naik kendaraan umum lewat TransJakarta. Di awal 2020 naik 3,5 kali lipat menjadi menjadi 1 juta lebih sekarang mencapai 1,2 juta," ucapnya.

(idn/idn)