Pengungsi Badai Ambon Tropis Terancam Penyakit
Kamis, 02 Mar 2006 20:58 WIB
Ambon - Sekitar 4.000 pengungsi badai tropis yang berada di tenda-tenda darurat maupun gedung SDN 23 dan 32 Ambon kini terancam berbagai penyakit. Pengungsi yang kebanyakan anak-anak itu kini mengalami gatal-gatal, diare dan ISPA. Mereka hanya tidur beralaskan tikar dan mendapat makan apa adanya. "Kami hanya makan mie instan dan minum air dingin. Mau buang air susah. Tidak ada air," ujar Halija (45) kepada detikcom di lokasi pengungsian SDN 32. Halija menuturkan dirinya, suami dan anak-anaknya hanya bisa menyelamatkan diri tanpa satupun barang yang berhasil dibawa. "Gelombang datang tiba-tiba. Warga panik dan langsung berlarian mencari tempat aman," tutur Halija.Dari pantauan detikcom, puluhan anak-anak balita hanya bisa diselemuti dengan baju-baju bekas. "Kemarin memang ada bantuan selimut. Tapi tidak cukup untuk kami," kata Ny. Abi (37).Menyikapi hal ini, pihak pemerintah kota Ambon berusaha mengantisipasai jatuhnya korban akibat ancaman penyakit dengan mendatangkan para medis ke area pengungsian. Pemkot juga akan berkoordinasi dengan dinas kesehatan provinsi Maluku untuk segera menangani persoalan ini. Agar jangan sampai penyakit menyerang warga. Terutama anak-anak dan balita. Dua buah posko kesehatan langsung didirikan. Sementara warga diberikan pengobatan gratis. Sayangnya, sebagian besar warga masih memilih memindahkan barang-barang yang tidak sempat dibawa sejak Rabu dini hari. "Jumlah pengungsi membengkak sampai 4.000 jiwa. Dan kami tengah berusaha mengantisipasi segera," kata Wakil Walikota Ambon, Syaraief Hadler kepada wartawan sore tadi.Talud PatahSementara itu talud sepanjang 40 meter yang berada di Jl Pantai Mardika Ambon patah. Empat kios dan dua bar mini yang berada disekitar lokasi tersebut juga ambruk ke laut.Di tempat terpisah, sebagian besar warga kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah yang tinggal di pesisir pantai juga memilih mengungsi dan mencari tempat yang aman."Kami juga mengungsi. Pukulan ombak sangat kuat dan terjangan angin sangat kencang. Jadi warga memilih mengungsi," ujar Abdullah Lausepa, warga desa Ureng Kecamatan Leihitu.
(ddn/)











































