Round-Up

Cerita di Balik Tak Ada Lagi Jumat Keramat di KPK

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 01 Apr 2021 05:11 WIB
Gedung baru KPK
Gedung Merah Putih yang menjadi markas bagi KPK (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Ada masa di mana hari Jumat membuat para tersangka deg-degan menyambangi KPK atau Komisi Pemberantasan Korupsi. Kala itu muncul jargon 'Jumat Keramat' sebab besar kemungkinan para tersangka itu akan ditahan terkait perkara korupsi.

Tertulis dalam sejarah sejumlah nama besar pernah terjerat 'Jumat Keramat'. Tak hanya ditahan, istilah itu lekat pula dengan penetapan tersangka kelas kakap di KPK.

Ambil contoh seorang Setya Novanto yang saat itu diumumkan KPK sebagai tersangka pada Jumat, 10 November 2017. Novanto dijerat terkait kasus megakorupsi proyek e-KTP.

"KPK menerbitkan surat perintah penyidikan pada tanggal 31 Oktober 2017 atas nama tersangka SN (Setya Novanto), anggota DPR RI," kata Wakil Ketua KPK saat itu Saut Situmorang di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (10/11/2017).

Menilik ke belakang lagi ada nama Anas Urbaningrum. Mantan Ketua Umum Partai Demokrat itu ditahan KPK pada Jumat, 10 Januari 2014.

Ada lagi nama lain yaitu Ratu Atut Chosiyah yang saat itu menjabat Gubernur Banten. Atut ditahan pada Jumat, 20 Desember 2013 karena terlibat dalam kasus suap sengketa pemilihan kepala daerah Kabupaten Lebak dan proyek pengadaan alat kesehatan (alkes) Provinsi Banten.

Namun kini jargon 'Jumat Keramat' sepertinya akan tamat. Kenapa?

Simak juga 'Salah Satu Politikus Yang ditangkap Pada Jumat Keramat':

[Gambas:Video 20detik]