BNPT Ungkap Tahanan Terorisme di Lapas Berpaham Salafi-Wahabi

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 30 Mar 2021 17:03 WIB
Direktur pencegahan BNPT Brigjen R. Ahmad Nurwakhid
Direktur pencegahan BNPT Brigjen R. Ahmad Nurwakhid (Foto: dok. Screenshot YouTube TVNU)
Jakarta -

Direktur pencegahan BNPT Brigjen R Ahmad Nurwakhid mengungkap tahanan terorisme di lapas BNPT ataupun di tahanan kepolisian berpaham Wahabi dan Salafi. Dia menuturkan semua teroris berpaham radikal, intoleran, dan bersikap eksklusif.

"Saya akan berbicara tentang pola radikalisme dan terorisme itu sendiri. Jadi semua terorisme yang ada di dalam tahanan kami di Densus, di BNPT, maupun di lapas-lapas untuk konteks Indonesia semua berpaham Salafi Wahabi," ujar Ahmad Nurwakhid dalam acara webinar 'Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial' yang disiarkan di YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama, Selasa (30/3/2021).

Akan tetapi, dia menuturkan tidak semua orang yang berpaham Ssalafi Wahabi menjadi teroris. Ia menyebut orang yang berpaham Salafi Wahabi jihadis-lah yang biasanya tergabung dengan jaringan terorisme.

"Tapi tidak semua Salafi Wahabi otomatis menjadi terorisme. Karena ada Salafi Wahabi dakwah, ada Salafi Wahabi yang mengikuti sistem demokrasi, ada Salafi Wahabi jihadis. Nah, Salafi Wahabi jihadis itu lah yang menjadi kombatan yang tergabung dalam Jamaah Islamiyah, Jamaah Ansharut Daulah, Jamaah Ansharut Khilafah, dan jaringan terorisme yang ada di Indonesia maupun di dunia," kata Ahmad.

Oleh karena itu, ada dua hal yang dilakukan Polri dalam memberantas terorisme, yaitu penegakan hukum oleh Densus 88 terhadap aksi terorisme serta melakukan pencegahan terhadap masyarakat yang belum terpapar paham radikalisme dengan melakukan kontra-radikalisasi, kontra-ideologi, kontra propaganda dan deradikalisasi.

"Strateginya adalah kontra-radikalisasi yang diisi oleh kontra-ideologi, kontra-propaganda, dan kontra-narasi ini ditujukan terutama bagi mereka yang sudah terpapar dari kadar rendah dan menengah, sudah mulai dari antipemerintahan yang sah, intoleransi, eksklusif, antibudaya lokal, antitradisi dan kearifan lokal, dan sebagainya melalui format moderasi beragama," imbuhnya.

Kemudian pemerintah juga melakukan upaya deradikalisasi bagi para tersangka terorisme, terdakwa, terpidana, narapidana, mantan narapidana terorisme yang masih dalam pengawasan, dan yang belum moderat. Deradikalisasi untuk mengurangi kadar radikalisme.

Lebih lanjut Ahmad juga mengutuk keras tindakan aksi bom bunuh diri yang dilakukan pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, kemarin. Ahmad menyebut aksi terorisme tidak terkait dengan agama mana pun.

Menurut dia, sosok pelaku bom bunuh diri Makassar itu awalnya bersikap lemah lembut, tetapi berubah saat bertemu dengan paham radikal.

"Termasuk yang dilakukan Lukman ini, Lukman ini orang baik, orang sabar pelaku yang ngebom di Makassar, tetapi karena dia berkenalan dengan ideologi Salafi Wahabi yang membid'ahkan, menyesatkan budaya tradisi tradisi lokal keagamaan barzanji, Yasinan, tahlilan, setelah kenal dengan seorang wanita yang kemudian jadi istrinya, maka berubah karakternya maka berubah sikapnya, berubah wataknya, yang tadinya hatinya sabar lembut berubah menjadi keras dan akhirnya menjadi teroris," ujarnya.

Sebelumnya, Ketum PBNU Said Aqil menyampaikan strategi untuk menghabisi jaringan terorisme. Said Aqil menyebut memberantas jaringan terorisme dilakukan dari benihnya atau pintu masuknya ajaran ekstremisme, yaitu ajaran Wahabi.

"Ini artinya, kalau kita benar-benar sepakat, benar-benar kita satu barisan ingin menghabisi jaringan terorisme, benihnya dong yang harus dihadapi. Benihnya, pintu masuknya yang harus kita habisi. Apa? Wahabi, ajaran Wahabi itu adalah pintu masuk terorisme," kata Said Aqil dalam webinar 'Mencegah Radikalisme dan Terorisme untuk Melahirkan Keharmonisan Sosial' yang disiarkan di YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama, Selasa (30/3/2021).

Said Aqil menegaskan ajaran Wahabi bukan terorisme, melainkan pintu masuk terorisme. Sebab, ajarannya dianggap ajaran ekstremisme.

"Ajaran Wahabi bukan terorisme, bukan, Wahabi bukan terorisme, tapi pintu masuk. Kalau udah Wahabi 'ini musyrik, ini bid'ah, ini sesat, ini nggak boleh, ini kafir, itu langsung satu langkah lagi, satu step lagi sudah halal darahnya boleh dibunuh'. Jadi benih pintu masuk terorisme adalah Wahabi dan Salafi. Wahabi dan Salafi adalah ajaran ekstrem," ujarnya.

Simak juga 'BNPT Ingatkan Walkot Makassar Soal Propaganda Teroris ke Milenial':

[Gambas:Video 20detik]

(yld/tor)