Ahmad Basarah: Islam Melarang Keras Peledakan Rumah Ibadah

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Senin, 29 Mar 2021 10:57 WIB
Ahmad Basarah
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah menyebut bangsa Indonesia kembali berduka akibat ledakan bom di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan. Dia menegaskan peledakan dan perusakan rumah-rumah ibadah bukanlah cara beradab untuk menyatakan kepentingan politik apapun oleh siapapun.

"Saya menyatakan duka cita sedalam-dalamya. Pelaku peledakan bom ini sampai sekarang memang belum diidentifiakasi oleh polisi. Tapi, jika dia pelaku politik, saya ingatkan bahwa meledakkan bom di rumah-rumah ibadah jelas bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan agama apapun," ujar dia dalam keterangannya, Senin (29/3/2021).

"Jika dia bagian dari terorisme yang selama ini dikaitkan dengan kalangan Islam garis keras, saya juga mengingatkan Islam melarang keras peledakan rumah-rumah ibadah dan pembunuhan umat beragama lainnya," imbuhnya.

Menurutnya, Peledakan bom bunuh diri di rumah ibadah ini bukan kasus pertama. Sejumlah rentetan kasus serupa terjadi di Indonesia, diawali dengan kasus bom bunuh diri di Bali pada 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang.

Setahun berikutnya, bom bunuh diri meledak di hotel JW Marriot, Kuningan, Jakarta Selatan pada 5 Agustus 2003 dan menewaskan 14 orang termasuk pelaku. Aksi bom bunuh diri serupa terjadi lagi di depan gedung Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada 9 September 2004 yang menewaskan sembilan orang dan melukai lebih dari 180 lainnya.

Lalu Bom Bali II terjadi pada pada 1 Oktober 2005 dan menewaskan 23 korban jiwa. Terakhir, bom bunuh diri dilakukan di sebuah gereja di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/05/2018) yang dilakukan oleh satu keluarga, seorang suami istri yang membawa dua anaknya. Ibu dan dua anaknya berupaya masuk GKI di jalan Diponegoro, Surabaya, sebelum kemudian ketiganya meledakkan diri di halaman gereja.

Ahmad Basarah mengatakan demikian berbahayanya aksi bom bunuh diri dan mendukung penuh gerak cepat Kapolri, Densus 88, serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Indonesia (BNPT) untuk mengambil langkah extra ordinary dalam menangani kasus terorisme ini.

Ketua DPP PDI Perjuangan ini meminta agar Polri dan BNPT meningkatkan kemampuan deteksi dini dalam mencium gelagat terorisme seraya menindak tegas semua pelaku dan jaringan terorisme sampai ke akar-akarnya.

"Jika pihak keamanan berhasil membongkar kasus ini lalu jelas siapa pelaku tindakan biadab itu, masyarakat akan tenang dan tidak akan saling curiga satu sama lain," ujarnya.

"Pasal 1 Angka 2 UU Terorisme jelas mengingatkan bahwa terorisme sangat berbahaya karena dapat menimbulkan suasana teror yang meluas dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan lainnya," tegas Ketua Fraksi PDI Perjuangan itu.

Ahmad Basarah mengingatkan bangsa Indonesia tidak boleh kalah melawan terorisme dalam bentuk apapun. Benteng ideologi bangsa Indonesia sangat kuat karena sila-sila dalam Pancasila jelas berlawanan dengan ideologi kekerasan yang ditebar oleh para teroris itu.

"Terorisme tidak berkaitan dengan agama apa pun karena semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Karena itu, saya berharap setiap orang bisa memisahkan antara ajaran agama dengan perbuatan orang per orang yang mengatasnamakan agama yang mereka anut," jelas Wakil Ketua Lazis PBNU ini.

Sekretaris Dewan Penasihat PP Baitul Muslimin Indonesia ini juga mengingatkan agar seluruh lapisan masyarakat bersikap tenang dan tidak terpancing oleh berita yang simpang siur tentang ledakan bom di Gereja Katedral Makassar itu. Berita hoax banyak tersebar di media sosial dan karena itu dia minta semua elemen masyarakat mempercayakan semua penyelidikan kasus ini pada pihak kepolisian.

(mul/ega)