Ma'ruf Amin: 94% Alat Kesehatan RI Produk Impor, Riset Harus Ditingkatkan

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kamis, 25 Mar 2021 14:25 WIB
Wakil Presiden Maruf Amin
Wapres Ma'ruf Amin (dok. Setwapres)
Jakarta -

Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan 94% alat kesehatan di Indonesia adalah produk impor. Ma'ruf Amin mendorong peningkatan riset dan inovasi di bidang kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Ma'ruf Amin awalnya memaparkan bahwa pandemi Corona menyadarkan akan pentingnya kemandirian di bidang kesehatan. Hal itu disampaikan Ma'ruf dalam webinar series MWA UI dengan tema 'COVID-19 dan Ketahanan Kesehatan Indonesia'.

"Pandemi COVID-19 juga menyadarkan kita bahwa kemandirian dalam bidang kesehatan menjadi sangat penting, yang meliputi ketersediaan SDM, obat-obatan, dan alat kesehatan, serta kemampuan riset, termasuk surveilan genomik," kata Ma'ruf Amin dalam sambutannya dalam tayangan YouTube Universitas Indonesia, Kamis (25/3/2021).

Ma'ruf mengatakan sebaran tenaga kesehatan di Indonesia juga belum merata. Ma'ruf menyebut daerah tertinggal masih kekurangan tenaga medis.

"Laporan Profil Kesehatan tahun 2019 menunjukkan jumlah SDM kesehatan sebanyak 1.182.024 orang, yang terdiri dari 73,13% tenaga kesehatan dan 26,87% tenaga penunjang kesehatan. Namun demikian, kita masih menghadapi masalah sebaran tenaga kesehatan khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Laporan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2019 juga menyebutkan jika 19,7% puskesmas masih kekurangan dokter, dan 65,6% puskesmas masih belum memiliki jumlah tenaga preventif dan promotif yang lengkap," jelasnya.

Selain SDM, Ma'ruf menekankan pentingnya kemandirian produksi obat dan vaksin esensial. Ma'ruf menyebut hingga saat ini bahan baku obat impor masih mendominasi di RI.

"Kemandirian juga tidak dapat dilepaskan dari ketersediaan obat dan vaksin esensial yang terjangkau dan berkualitas untuk seluruh penduduk. Upaya mendorong kemandirian produksi obat khususnya obat generik, menjadi sangat mendesak untuk dilakukan. Menurut data Kementerian Perindustrian saat ini terdapat 178 perusahaan farmasi swasta nasional, 24 perusahaan multinasional dan 4 BUMN pada tahun 2019. Namun 90% bahan baku obat-obatan masih diimpor dari luar negeri," jelasnya.

Sementara itu, alat kesehatan di RI, kata Ma'ruf, sebanyak 94% adalah produk impor. Dia mendorong agar dilakukan peningkatan riset dan inovasi dalam pengadaan alat kesehatan ini.

"Sama seperti yang terjadi dengan obat, sekitar 94% alat kesehatan, alkes yang beredar di Indonesia merupakan produk impor. Sampai saat ini, alkes yang diproduksi di dalam negeri masih didominasi oleh produk-produk dasar dengan teknologi sederhana, dengan angka pertumbuhan industri alkes mencapai 12% setiap tahunnya," jelas Ma'ruf.

"Selain itu, perlu dilakukan peningkatan kapasitas lembaga riset, termasuk kapasitas surveilan genomik. Untuk itu berbagai lembaga seperti Eijkman, Balitbangkes, Unair, UGM, UNS, LIPI, UIN, ITB, Universitas Tanjungpura, dan Mikrobiologi FKUI telah melakukan surveilan genomik di berbagai provinsi di Indonesia. Saya berharap kemampuan ini dan riset pengembangan alat-alat kesehatan serta obat-obatan terus ditingkatkan karena hal ini sangat vital bagi upaya kita membangun kemandirian kesehatan," tutur dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2