USU Kosongkan Rumah Dinas yang Ditempati Keluarga Eks Guru Besar

Ahmad Arfah Fansuri Lubis - detikNews
Rabu, 24 Mar 2021 19:20 WIB
Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan pengosongan rumah dinas yang hingga kini masih ditempati keluarga dari mantan guru besar Profesor TMHL Tobing. Pengosongan dilakukan setelah dua kali diminta pindah melalui surat.
Pengosongan rumah dinas eks guru besar USU (Dok. Humas USU)
Medan -

Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan pengosongan rumah dinas yang hingga kini masih ditempati keluarga dari mantan guru besar Profesor TMHL Tobing. Pengosongan dilakukan setelah dua kali diminta pindah melalui surat.

"Pengosongan sudah sesuai dengan aturan universitas yang berlaku dan ketentuan bahwa aset negara tidak boleh dimiliki pribadi," kata Kepala Humas Protokoler dan Promosi USU, Amalia Meutia, Rabu (24/3/2021).

"USU juga sebelumnya sudah menyurati keluarga yang bersangkutan. Surat perihal pengembalian dan penyerahan rumah negara yang pertama dilayangkan 15 Desember 2020, kemudian dilayangkan kembali pada 18 Maret 2021. Tapi kedua surat juga tidak diindahkan," imbuhnya.

Amalia mengatakan rumah ini nantinya akan tetap dijadikan rumah dinas bagi pegawai USU. Rumah ini sebelumnya akan direnovasi terlebih dahulu.

"Peruntukannya tidak diubah, tetap akan dijadikan rumah dinas," ucap Amalia.

Amalia kemudian menjelaskan rumah dinas ini hanya bisa dipakai oleh pegawai. Rumah dinas itu kemudian harus dikembalikan jika pegawai tersebut berhenti ataupun pensiun.

"Pegawai USU yang dimaksud adalah dosen PNS atau dosen tetap non-PNS. Dalam peraturan rektor yang sama, khususnya BAB IV Pasal 8 poin 2 menyebutkan surat izin penghunian berakhir masa berlakunya apabila pejabat atau pegawai USU yang bersangkutan telah meninggal dunia," ujar Amalia.

Pada proses pengosongan rumah dinas ini, kata Amalia, juga sudah diberikan waktu kepada keluarga untuk memindahkan sendiri barang-barangnya. Namun karena tidak diindahkan, pengosongan dilakukan oleh pihak USU.

"Rumah itu milik negara. Jadi sampai kapan pun tidak boleh dikuasai untuk kepentingan pribadi. Kami sangat menghargai jasa-jasa Prof TMHL Tobing, namun di satu sisi kami harus berpegang pada aturan rektor," jelasnya.

Amalia memastikan proses pengosongan itu berjalan dengan humanis. Bagi keluarga yang disabilitas disediakan ambulans, sedangkan untuk memindahkan barang-barang, disediakan mobil pengangkutan.

"USU menyediakan transportasi untuk barang-barang ke tempat tujuan tanpa biaya apa pun. Proses pengosongan rumah dinas lainnya akan dilakukan secara bertahap," paparnya.

(rfs/rfs)