Pengakuan Pengamen Ondel-ondel di Mayestik, Ngotot Keliling Meski Dilarang

Rakha Arlyanto Darmawan - detikNews
Rabu, 24 Mar 2021 18:52 WIB
Pengamen ondel-ondel.
Pengamen ondel-ondel. (Foto: detikcom)
Jakarta -

Pemprov DKI Jakarta melarang ondel-ondel digunakan untuk mengamen. Pengamen ondel-ondel dinilai muncul seperti mengemis. Apa kata pengamen ondel-ondel?

Pemuda bernama Bagas (18) mengisi waktunya sebagai pengamen ondel-ondel. Dulu dia sempat bekerja di sebuah percetakan.

"Ya buat sampingan aja, daripada nggak ada kerjaan," katanya, ketika ditemui di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Dia menjadi pengamen ondel-ondel diajak oleh rekannya. Penghasilannya tidak pasti, tapi paling banyak dia mengaku pernah mendapat Rp 100 ribu lebih dalam satu hari.

"Kalau biasanya sih paling Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu," jelas dia.

Selama berkeliling, Bagas sembari membawa ember kecil. Dia juga berkeliling seorang diri tanpa iringan musik.

Ondel-ondel yang dibawanya bukan milik sendiri. Dia menyewa dengan ongkos Rp 50 ribu sehari.

Soal kebijakan Pemprov DKI yang bakal melarang pengamen ondel-ondel, Bagas tak menyoal. Dia mengaku bakal tetap berkeliling.

"Sebenarnya nggak masalah sih. Saya tetap jadi ondel-ondel keliling," jelas dia.

Sebelumnya, Kepala Satpol PP DKI Jakarta Arifin mengatakan larangan itu diterapkan sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya Betawi. Menurutnya, ondel-ondel yang selama ini digunakan untuk mengamen tidak bisa dinikmati nilai seninya. Sebab, para pengamen hanya meminta-minta uang.

"Saat ini kan kita bisa lihat kondisinya banyak sekali di jalan-jalan, di pinggir jalan, di permukiman, bahkan masuk ke permukiman-permukiman, ikon ondel-ondel ini dijadikan untuk mengamen. Ngamen ini sebenarnya tidak terlihat kesannya ngamen, tapi malah munculnya seperti ngemis, keliling-keliling. Kesannya seperti mengemis, hanya menggunakan ikon ondel-ondel," kata Arifin saat dihubungi, Rabu (24/3/2021).

(idn/imk)