Pemprov Riau Bantah Jual Pulau Rupat
Rabu, 01 Mar 2006 17:05 WIB
Pekanbaru - Nama Pulau Rupat di Kabupaten Bengkalis, Riau, disebut-sebut dalam situs jual beli dan rental pulau Private Islands Online. Apakah Rupat dijual seperti halnya Pulau Sultan? Pemprov Riau tegas menyangkalnya. Yang ada hanyalah membuka peluang investasi bidang wisata kepada investor asing. Penegasan itu disampaikan Kabag Humas Pemprov Riau, Zulkarnain, menjawab pertanyaa detikcom, Rabu (1/3/2006). Menurut Zul, sejauh ini belum ada kebijakan pemerintah daerah akan memperjualbelikan pulau-pulau yang ada di Riau. "Menjual pulau sama saja kita sudah menjual harga diri bangsa kita. Sedangkan soal Pulau Rupat di Bengkalis, selama ini memang dipromosikan untuk mengundang investor luar negeri untuk menanamkan investasinya bidang wisata," kata Zul. Dia menjelaskan, peluang investasi bidang wisata di Pulau Rupat itu bertujuan untuk agar tercipta objek wisata andalan seperti di Lagoi, Tanjungpinang, Provinsi Kepri. Investor nantinya bisa membangun objek wisata pantai. Tentunya semua itu memiliki masa kontrak selama 30 tahun. "Sebenarnya yang lebih tahu tentang pulau Rupat itu Pemkab Bengkalis. Tapi menurut hemat kami, sejauh ini tidak ada ide akan menjual pulau itu. Intinya, hanya membuka peluang investasi wisata di Pulau Rupat," ujar Zul. Tidak MungkinAzmi RF, anggota DPRD Bengkalis, kepada detikcom mengatakan, sangat tidak mungkin pulau Rupat dijual atau dimiliki orang asing. Selama ini, diakuinya, Pemkab Bengkalis sering mengundang investor dari Malaysia untuk menanamkan investasinya di pulau berpenduduk sekitar 30 ribu jiwa itu. Walau sudah sering mengundang investor dari Malaysia, lanjut Azmi, sampai sekarang belum ada yang berminat menanamkan investasinya di Pulau Rupat. Hal itu karena kondisi infrastruktur di Pulau Rupat atau pun sarana menjangkau pulau tersebut belum sepenuhnya memadai. "Bila ingin ke pulau itu sebagian besar masyarakat masih menggunakan kapal tradisonal. Untuk menggunakan speedboat mesti mengeluarkan dana yang lumayan besar," kata Azmi. Azmi menjelaskan, minimnya niat investor di Pulau Rupat itu juga didasari soal kebutahan air tawar yang sulit didapat. Ini belum lagi sarana jalan di pulau tersebut sangat terbatas. "Sangat tidak mungkin pulau itu bisa dijual atau dimiliki perseorangan. Sebab di sana sudah ada penduduknya. Kalau pun nantinya ada ide gila akan menjual pulau tersebut pasti akan berhadapan dengan masyarakatnya," jelas Azmi yang mantan aktivis mahasiswa Universitas Riau (UNRI) itu. Sekilas Profil Pulau Rupat Pulau Rupat yang memiliki luas 1.500 km persegi yang letaknya di kawasan Selat Malaka. Sejak Kepri pisah dari Riau daratan, salah satu objek andalan wisata bahari memang hanya diharapkan dari Pulau Rupat tersebut. Letaknya cukup strategis di lajur pelayaran internasional yang berdekatan dengan Malaysia dan Singapura. Hingga saat ini untuk menuju pulau itu belum ada angkutan laut resmi. Bibir pantai pulau itu dihiasi pasir putih yang membentang sepanjang 12 km. Pulau itu ada dua kecamatan yakni Kecamatan Rupat dan Kecamatan Rupat Utara. Masyarakatnya mayoritas dihuni orang Melayu serta sebagian kecil pendatang dan WNI keturunan Tionghoa. Di pulau ini juga ada semacam kebebasan transaksi perdagangan antarpulau ke Malaysia sehingga berbagai jenis kendaraan roda dua yang dimiliki masyarakat berasal dari negeri jiran. Harganya relatif lebih murah dibandingkan harus membeli produk dalam negeri. Itu sebabnya, sepeda motor di pulau itu mayoritas tidak memiliki surat kendaraan. Foto: Pulau Rupat (sumatera-online.org)
(nrl/)











































