Jasad Yunus Ditikam di Malaysia Belum Dipulangkan, Pemkab Asahan Buka Suara

Perdana Ramadhan - detikNews
Selasa, 23 Mar 2021 18:57 WIB
Suasana di rumah duka Yunus di Asahan (Perdana-detikcom)
Suasana di rumah duka Yunus di Asahan (Perdana/detikcom)
Asahan -

Pemkab Asahan menjelaskan penyebab jasad Ahmad Yunus Dalimunthe (39) yang tewas ditikam di Perak, Malaysia, belum dipulangkan. Yunus disebut bekerja ke Malaysia secara ilegal.

"Dia bukan TKI. Jadi dia merupakan warga (Asahan) yang secara ilegal bekerja di Malaysia," kata Kasi Penempatan dan Pasar Kerja Dinas Ketenagakerjaan Asahan, Edy Catur Prayetno, Selasa (23/3/2021).

Dia mengatakan pihak KBRI Kuala Lumpur menunggu keluarga Yunus menjemput jenazah ke Malaysia. Dia mengatakan pemerintah tak bisa memfasilitasi pemulangan karena Yunus bekerja secara ilegal.

"Jadi KBRI ini menunggu kapan keluarganya bisa menjemput ke Malaysia. Kembalinya tidak bisa difasilitasi pemerintah, harus mandiri," kata Catur.

Keluarga Yunus mengaku pasrah karena tak punya biaya menjemput jenazah. Keluarga menyebut pemulangan terkendala urusan keimigrasian karena Yunus bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di Malaysia secara ilegal.

"Sampai hari ini masih belum ada kepastian kapan abang kami ini jenazahnya bisa pulang, termasuk info dari KBRI di Malaysia juga belum pasti. Kami sudah hampir pasrah saja berharap ada orang yang mau bantu," kata adik kandung Yunus, Rizky.

Dia mengatakan ada agen yang menawarkan bantuan pemulangan dengan biaya sekitar 4.500 ringgit atau sekitar Rp 15 juta. Namun, katanya, keluarga tak punya biaya.

"Ada juga organisasi yang datang mau bantu, namun sampai hari belum ada perkembangan," ucap dia.

Sebelumnya, Yunus diduga menjadi korban pembunuhan di Malaysia. Keluarga mendapat kabar Yunus dibunuh oleh TKI di sana.

"Saya dapat telepon dari kawannya hari Sabtu malam. Katanya Abang (korban) kena tikam di dadanya sampai meninggal. Yang nikam ini kawan satu kerjaannya juga," kata istri korban, Sutiah (38), kepada wartawan di rumahnya, Dusun II Desa Air Joman, Asahan, Senin (15/3) lalu.

Sutiah mengatakan suaminya bekerja sebagai ABK di wilayah Sungai Tiang, Perak, sejak 2017. Pihak keluarga hanya pasrah dan berharap korban bisa dimakamkan di kampung halamannya.

(haf/haf)