TNI Gelar Rakorniskes, Bahas Pembangunan Bio Security-Defense

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Senin, 22 Mar 2021 12:08 WIB
TNI menggelar rakorniskes tahun anggaran 2021
TNI menggelar rakorniskes tahun anggaran 2021 (Foto: Sachril Agustin Berutu-detikcom)
Jakarta -

TNI menggelar Focus Group Discussion (FGD) rapat koordinasi teknis kesehatan (rakorniskes) Tahun Anggaran (TA) 2021. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto ingin adanya pembahasan mengenai pembangunan badan atau instansi terkait di bidang biologi.

Pesan Hadi itu dibacakan oleh Irjen TNI Letjen TNI (Mar) Bambang Suswantono sebagai pembuka FGD. Dalam pesannya Hadi mengatakan virus Corona merupakan ancaman yang nyata bagi seluruh masyarakat dunia.

Hadi menambahkan pemerintah telah melakukan beragam upaya untuk menanggulangi wabah COVID-19. Kerugian akibat virus ini dia katakan tidak hanya di bidang kesehatan, tapi juga di sektor ekonomi.

"Penelitian Global Health Security Tahun 2019 menyebutkan bahwa keamanan kesehatan nasional setiap negara pada dasarnya lemah di seluruh dunia. Tidak ada negara yang sepenuhnya siap menghadapi epidemi atau pandemi, dan setiap negara memiliki celah penting untuk ditangani," berikut pesan Hadi, saat FGD rakorniskes TNI TA 2021 "Pengendalian Ancaman Biologi dan Ketahanan Kesehatan Nasional", di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (22/3/2021).

Hadi mengatakan perlu koordinasi antar instansi/kementerian untuk menghadapi potensi ancaman kedaruratan nasional dan global di bidang penyakit infeksi baru, zoonosis, maupun ancaman penyalahgunaan agen biologi. TNI, lanjutnya, juga turut serta untuk menghadapi potensi ancaman itu, sebab menjadi tugas TNI yang disebut operasi militer selain perang (OMSP) yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia.

"Indonesia sebagai negara tropis merupakan gudang berbagai agent biologi. Masalah utama yang muncul dalam penanganan permasalahan tersebut adalah sulitnya membedakan antara penggunaan agent biologi untuk hostile purposes dan peaceful purposes. Selain itu potensi masalah yang timbul adalah masalah kerentanan laboratorium biologi berupa kecelakaan karena kelalaian manusia (naturally occure) dan penyalahgunaan patogen biologi (biological weapons) secara sengaja untuk suatu kepentingan dan tujuan tertentu yang dapat mengganggu kestabilan keamanan dan ketahanan negara," paparnya.

Dia pun ancaman lain ada ancaman dari biologi ini, yakni ancaman militer seperti senjata kimia, biologi, radiologi, nuklir, dan sebagainya dan ancaman non militer misalnya pandemi COVID-19. Hadi pun ingin agar ketahanan Indonesia dalam menghadapi ancaman wabah penyakit semakin kuat ke depannya.

Oleh karena itu dia ingin agar semua pihak bersatu dan menghilangkan ego sektoral untuk membentuk ketahanan kesehatan nasional.

"Oleh karenanya dalam FGD ini perlu dipikirkan apakah perlu adanya badan atau lembaga yang memiliki tugas pokok dan fungsi mengkoordinasikan pelaksanaan kebijakan dan penyelenggaraan pertahanan negara di bidang biologi. Selain itu, apakah perlu adanya pusat bio security atau bio defense yang tugasnya adalah mengkoordinasikan dan melaksanakan identifikasi, deteksi, pencegahan, dan respon terhadap bio teror dan ancaman kedaruratan kesehatan akibat penyakit infeksi," imbuhnya.

"Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, bio security dan bio defense memiliki tanggung jawab koordinasi dan kerja sama dengan Kementerian Pertahanan dan kementerian atau lembaga terkait sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku," sambung Hadi.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, juga bicara soal penguatan bio security dan bio defense nasional. Dia mengatakan COVID-19 menjadi momentum penting untuk memperkuat infrastruktur dalam dua hal tersebut.

"Pada prinsipnya, pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan diri tentang penguatan bio security dan bio defense nasional. Dengan adanya COVID ini maka ini adalah salah satu momentum penting untuk bisa memperkuat infrastruktur dan kolaborasi," kata Wiku di sela acara.

Dia mengatakan saat ini Indonesia telah memiliki berbagai laboratorium hingga peneliti di berbagai lembaga. Menurutnya, saat ini perlu ada penyatuan berbagai kekuatan untuk memperkuat bio security dan bio defense.

"Kekuatan nasional ini harus dijadikan satu untuk menjadi kekuatan untuk kepentingan bio defense, bio security," ujarnya.

(sab/eva)