Pulau Bidadari Ingatkan Kisah Kerajaan Sealand
Rabu, 01 Mar 2006 11:30 WIB
Jakarta - Kasus dikuasainya Pulau Bidadari oleh pasutri Inggris mengingatkan kita pada kisah nyaris serupa di Inggris.Seorang purnawirawan Mayor Inggris menduduki pangkalan militer Inggris yang kemudian meresmikannya sebagai Kerajaan Sealand. Bagaimana sejarahnya?Saat Perang Dunia II, pemerintah Inggris memutuskan untuk mendirikan sejumlah pangkalan militer. Tujuannya untuk melindungi Inggris dari serangan udara Jerman.Benteng-benteng laut ini dihuni oleh banyak pasukan Inggris dan dilengkapi dengan artileri yang dirancang untuk menembak jatuh pesawat dan rudal balistik Jerman.Pangkalan militer ini ditempatkan di sepanjang pantai timur Inggris yang terletak di pinggiran wilayah perairan Inggris.Salah satu pangkalan militer itu, yang terdiri dari konstruksi beton dan besi, adalah Roughs Tower, benteng kerajaan Inggris yang terkenal. Lokasinya di sebelah utara muara Sungai Thames.Seperti halnya pangkalan laut lainnya, Roughs Tower menggunakan jangkar yang dilabuhkan ke dasar laut.Semula basis laut ini akan ditempatkan di dalam wilayah kedaulatan Inggris. Namun kemudian rencana itu berubah. Pangkalan ini ditempatkan di satu titik sekitar 7 mil laut dari pantai timur Inggris, yang artinya lebih dari dua kali jarak 3 mil laut wilayah perairan Inggris. Dengan kata lain, benteng ini berlokasi di perairan internasional Laut Utara.Setelah Perang Dunia II berakhir, pasukan Inggris ditarik dari semua pangkalan. Tidak satu pun dari benteng-benteng laut itu yang pernah digunakan lagi oleh pemerintah Inggris. Semua pangkalan itu ditinggalkan dan dikosongkan, termasuk benteng Roughs Tower.Lahirnya SealandSituasi ini membuka jalan okupasi. Pada 2 September 1967, seorang purnawirawan Mayor Inggris bernama Paddy Roy Bates secara resmi menduduki pulau buatan Roughs Tower dan tinggal di sana bersama keluarganya.Setelah pembicaraan intensif dengan para pengacara ulung Inggris, Roy Bates memproklamirkan pulau itu sebagai negara miliknya. Pria itu menobatkan dirinya dengan gelar pangeran dan istrinya, Joan Bates digelari putri. Roy pun resmi mendirikan Kerajaan Sealand. Roy Bates kemudian dikenal sebagai Roy of Sealand.Ia memberlakukan otoritas negara di pulau itu. Sejak itu keluarga kerajaan dan orang-orang lainnya yang telah menyatakan kesetiaannya pada Kerajaan Sealand mendiami pulau itu.Tantangan Kedaulatan SealandPada akhir 1968, Angkatan Laut (AL) Inggris akhirnya menyadari situasi terbaru di lepas pantai Inggris itu. Mereka berniat menghentikan urusan soal kerajaan yang dianggap sebagai suatu kekeliruan ini dengan tidak menimbulkan ribut-ribut.Maka berangkatlah beberapa unit AL Inggris ke wilayah perairan yang diklaim oleh Roy. Karena Roy merasa punya kedaulatan atas wilayahnya, maka dia mengancam AL Inggris dengan mengambil langkah-langkah pertahanan. Beberapa tembakan peringatan dilancarkan dari Sealand.Mengingat Roy masih berstatus warga negara Inggris, pria itu pun dikenai tuduhan kejahatan berat dan dihadapkan ke pengadilan Inggris. Namun justru dari sinilah sumber keberhasilan spektaluler atas klaim kedaulatan Sealand.Dalam putusannya pada 25 November 1968, Pengadilan Chelmsfort/Essex menyatakan pihaknya tidak berkompeten menangani kasus Roy karena tidak memiliki yurisdiksi di luar wilayah nasional Inggris.Ini merupakan pengakuan de facto pertama atas Kerajaan Sealand. Hukum Inggris telah memutuskan Sealand bukan bagian dari kerajaan Inggris, serta belum ada negara lain yang mengklaimnya. Karena itulah, deklarasi Pangeran Roy atas kerajaan Sealand dinyatakan sah.Bersambung...
(ita/)











































