KPAI Minta Kemenpar Perketat Regulasi Perhotelan Cegah Prostitusi Anak

Yogi Ernes - detikNews
Jumat, 19 Mar 2021 19:40 WIB
Cynthiara Alona disebut menyediakan hotelnya sebagai tempat prostitusi anak di bawah umur.
Foto: Cynthiara Alona disebut menyediakan hotelnya sebagai tempat prostitusi anak di bawah umur. (Yogi/detikcom)
Jakarta -

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti kasus prostitusi anak di hotel milik artis Cynthiara Alona. KPAI meminta Kementerian Pariwisata membuat regulasi untuk perhotelan yang dapat memberikan aspek perlindungan bagi anak untuk mencegah adanya prostitusi di bawah umur.

Ketua KPAI Susanto mengatakan, kasus prostitusi anak di bawah umur yang terjadi di lingkungan hotel bukan kali pertamanya. Polda Metro Jaya sendiri telah mengungkap sejumlah praktik prostitusi anak di hotel yang terjadi di beberapa tempat.

"Belajar dari maraknya kasus-kasus eksploitasi seksual anak di perhotelan, kami berharap mendapat perhatian khusus dari Kementerian Pariwisata, karena di Peraturan Menteri Pariwisata (tahun) 2013 yang direvisi 2019 itu di antaranya adalah standar hotel harus memuat satu produk layanan dan pengelolaan," kata Susanto dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (19/3/2021).

"Hemat kami dengan maraknya kasus anak di perhotelan, kita harapkan dapat memasukkan aspek perlindungan anak di Peraturan Menteri Pariwisata," sambung Susanto.

Pertumbuhan perhotelan harus tetap tumbuh, tetapi di sisi lain harus memperhatikan aspek perlindungan bagi anak-anak.

"Hotel harus tetap kita dorong tumbuh, tapi di pihak lain anak-anak kita jangan dikorbankan untuk kepentingan operasional," katanya.

Susanto juga menilai platform media sosial juga harus ikut andil dalam melindungi anak-anak dari kejahatan di dunia maya. Terkait hal ini, KPAI telah berkomunikasi dengan sejumlah platform agar memberikan proteksi kepada anak-anak, khususnya yang menggunakan media sosial.

"Tanggung jawab media platform harus benar-benar ditunjukkan. Beberapa waktu lalu kita sudah undang Facebook dan Twitter dan lain-lain, kita harapkan karena ini kasusnya dari komunikasi Michat, kita harap pengelola dan manajemen Michat juga memperhatikan proteksi terkait dugaan kasus kejahatan terhadap anak bisa diprotek sedemikian rupa, sehingga komunikasi trafficking melalui Michat bisa dicegah sedini mungkin," papar Susanto.

Berdasarkan survei KPAI, 42 persen anak-anak di 34 provinsi di Indonesia sudah terpapar konten negatif, baik itu konten pornografi, kekerasan, sadisme dll. Untuk itu, Susanto berharap pemerintah daerah agar lebih aktif dalam mencegah anak sebagai korban kejahatan.

"Tanggung jawab pemerintah daerah harus jadi ujung tombak agar kepentingan anak-anak kita tidak menjadi korban prostitusi baik online maupun offline prostitusi," tandasnya.

Seperti diketahui, Polda Metro Jaya membongkar prostitusi anak di bawah umur di hotel milik Cynthiara Alona. Ada 15 anak korban prostitusi yang diamankan polisi dari lokasi tersebut.

Dalam kasus ini, polisi menetapkan Cynthiara Alona sebagai tersangka penyedia tempat prostitusi, tersangka DA sebagai muncikari dan AA sebagai pengelola hotel.

(mei/mei)