Menilik Kerajinan Rebana di Demak yang Jadi Alat Syiar Sunan Kalijaga

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 18 Mar 2021 11:21 WIB
rebana
Foto: Pradita Utama
Demak -

Demak yang dijuluki Kota Wali ini memiliki budaya islam yang kental, apalagi salah satu kerajaan Islam di Indonesia pernah ada di Kabupaten ini. Tak heran pengaruh Islam bisa dilihat di segala aspek, salah satunya kerajinan rebana.

Rebana digunakan oleh Raden Said atau yang dikenal dengan nama Sunan Kalijaga dalam menyiarkan agama Islam di tanah Jawa beratus-ratus tahun yang lalu. Plh Unit Pelaksana Teknik Daerah Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak Ahmad Widodo mengatakan Sunan Kalijaga selain dikenal sebagai ahli tata politik hingga strategi perang, Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai seorang seniman.

"Beliau adalah salah satu dari ulama atau wali sembilan yang dipandang berhasil mengislamkan Nusantara melalui kearifan lokal. Pendekatan kearifan lokal ini meliputi kebudayaan, tradisi, dan kesenian," ungkap Widodo kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Sunan Kalijaga dalam dakwahnya, lanjut Widodo, mempergunakan wayang. Bahkan, salah satu cerita wayang Dewa Ruci mengisahkan tentang Sunan Kalijaga yang naik haji.

Adapun kaitannya dengan rebana atau 'terbang' sebutan di Kabupaten Demak, Sunan Kalijaga menggunakannya untuk mengisahkan cerita 1001 malam. Dia mengatakan Rebana memang bukan tradisi dari Jawa melainkan perpaduan antara Arab dan juga India.

"Nah, kalau di Demak itu yang populer namanya kentrung. Kentrung ini menggunakan rebana, dimainkan sendiri atau berpasangan. Nah, di situ juga ada pantun, cerita, hidayah, dan cerita mina atau cerita-cerita tentang nabi," jelas Widodo.

Rebana ini dibawa ke mana-mana dan digunakan Sunan Kalijaga dalam perjalanannya dalam menyebarkan agama Islam.

"Bisa saja rebana ini dipakai dalam perjalanan mengembara, setiap di desa mana, beliau menceritakan cerita hikayat sebagai pelepas pelipur lara. Dalam pengembaraan sebagai musafir, dia selain berdakwah juga berkesenian mengumpulkan orang-orang atau anak-anak yang ingin mendengarkan kisah-kisah seribu satu malam hingga nabi. Dari situlah mereka (rakyat) mau masuk Islam," ucapnya.

Perlahan, kehadiran rebana semakin kokoh di masyarakat Demak hingga banyak muncul para perajin rebana. Tujuannya adalah untuk melestarikan alat musik yang diturunkan oleh Sunan Kalijaga dalam menyiarkan agama Islam kala itu.

Dari beberapa perajin rebana yang ada di Demak, salah satunya adalah Ahmad Afif (31) yang menggeluti usaha turun temurun milik keluarganya. Menurut Afif, rebana telah menjadi ikon Demak sejak dulu hingga saat ini.

"Dulu rebana dan bedug ini kan untuk alat syiar agama Islam, dari kanjeng Sunan Kalijaga memang turun temurun dan identik di Demak. Sistem syiar agama dari Sunan Kalijaga itu yang memelopori, cara untuk menyebarkan agamanya lewat gamelan, rebana, wayang kemudian dikombinasikan. Di situlah mulainya rebana menjadi ikonnya Demak," tuturnya.

Ia pun mengatakan dahulu rebana hanya bisa dipakai kalangan seniman bukan untuk orang awam dan yang memainkannya hanya orang-orang tertentu saja untuk menyebarkan agama Islam, dan salah satunya lewat rebana.

"Dulu awal mula hanya untuk kalangan seniman, bukan untuk orang awam, misal juga di pesantren. Sekarang kan ibu-ibu jamaah sampai anak-anak sekolah ada lomba pekan seninya, juga ada lomba rebana," ucapnya.

Ia pun kini tengah melanjuti usaha turun temurun yang diturunkan dari mbah buyut. Keluarganya pun menjadikannya sebagai kerajinan tangan di tahun 1970 dan memakai merek ayahnya yaitu H. Zaeni sejak tahun 1993.

"Bapak saya juga turun temurun, bapak meneruskan dari punya mbah, mbah dari mbah buyut, bisa dibilang ya ilmu turun temurun. Dari dulu ya bisa dibilang hanya sekedar seni bukan menjadi bisnis karena dulu peminatnya sedikit dan kalangan tertentu saja," tutur Afif.

rebanarebana Foto: Pradita Utama

Dalam menggeluti usahanya, Afif juga menggunakan bantuan modal dari BRI untuk membeli kayu besar dan beli tanah untuk mengembangkan usahanya. Ia pun mengalami peningkatan produksi dari yang tadinya menghasilkan 4 buah rebana saja dan kini sudah bisa 8 kali lipat.

"Dulu kita hanya bisa produksi 4 pcs, sekarang bisa sampai di 18-24 pcs, bisa dihitung lah persentasenya bisa 6 kali lipat lah," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

(mul/ega)