Polres Soetta: Meterai Palsu Dijual Murah, Rp 300 Ribu Per 50 Lembar

Rahmat Fathan - detikNews
Rabu, 17 Mar 2021 17:36 WIB
Pemalsuan materai senilai Rp 37 miliar dibongkar Polres Bandara Soekarno-Hatta
Pemalsuan meterai senilai Rp 37 miliar dibongkar Polres Bandara Soekarno-Hatta. (Fathan/detikcom)
Jakarta -

Polres Bandara Soekarno-Hatta membekuk 6 orang berinisial SRL, WID, SNK, BST, HND, dan ASR terkait pemalsuan meterai. Polisi menyebut meterai palsu tersebut dijual dengan harga jauh lebih murah ketimbang yang asli.

Kapolres Bandara Soetta Kombes Adi Ferdian Saputra mengatakan harga meterai asli Rp 10 ribu per lembar yang berisi 50 keping meterai dijual Rp 500.000 di kantor pos. Sementara para tersangka pemalsu meterai ini menjual hanya dengan Rp 300 ribu.

"Kalau harga di kantor pos itu Rp 500 ribu, mereka per lembarnya menjual Rp 300 ribu. Jadi ini sangat mencurigakan," ujar Adi saat di Polres Bandara Soetta, Rabu (17/3/2021).

Menurut Adi, komplotan ini telah memproduksi meterai palsu selama 3,5 tahun. Para pelaku memasarkan meterai palsu tersebut lewat media sosial ke lintas provinsi.

"Iya, karena menggunakan media online, tidak menutup kemungkinan pemasarannya di antarpulau atau antarkota yang dikirimkan oleh para pelaku," ucapnya.

Adi menjelaskan, komplotan ini memproduksi meterai palsu sesuai dengan pesanan yang diterima. Polisi pun mengamankan 50 rim meterai palsu yang hendak diedarkan.

"Untuk sehari memproduksi sesuai pesanan yang mereka terima, yang kita amankan ini barang buktinya adalah 50 rim yang akan mereka produksi," kata Adi.

Setelah dikalkulasi, 50 rim meterai palsu yang diamankan polisi itu berpotensi merugikan keuangan negara hingga Rp 12,5 miliar. Hitungannya adalah 50 rim x 500 lembar kertas x 50 keping meterai x Rp 10.000.

"Kerugian setelah kita hitung itu berpotensi merugikan negara sebanyak Rp 12,5 miliar," tutur dia.

Selain menangkap 6 orang pelaku, polisi juga menetapkan 1 orang berinisial MSR sebagai DPO. Adi berujar, MSR berperan menjahit atau melubangi meterai palsu tersebut.

Dalam kasus ini, polisi menyita barang bukti berupa printer, kertas polos pembuat meterai, alat sablon, plastik pembuat hologram, mesin jahit, hingga laptop.

Para tersangka akan dijerat dengan Pasal 253 dan Pasal 257 KUHP, serta Pasal 24 dan 25 UU Nomor 10 Tahun 2020 tentang Bea Materai. Adapun ancaman hukumannya 7 tahun penjara.

(mea/mea)