Komunitas di Demak Ini Jadi Wadah Gerakan Perempuan Lawan Kemiskinan

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Selasa, 16 Mar 2021 12:22 WIB
nelayan wanita
Foto: Pradita Utama
Demak -

Perempuan nelayan pesisir punya andil sebagai tulang punggung yang menambah penghasilan keluarga, namun di tengah himpitan ekonomi mereka kerap mendapat perlakuan diskriminasi hingga berujung kekerasan.

Berangkat dari hal tersebutlah Puspita Bahari hadir sebagai komunitas perempuan nelayan yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Adalah Masnuah (47) pendiri dari komunitas yang sudah 16 tahun berjuang memberdayakan ekonomi perempuan ini.

Masnuah mengatakan komunitas yang menempati sekretariat seluas 5x9 meter di Desa Morodemak, Kecamatan Bonang ini punya misi utama, yaitu memperjuangkan kesetaraan dan melawan kemiskinan.

"Jadi Puspita Bahari ini kalau saya bilang adalah sebagai wadah gerakan perempuan nelayan, gerakan itu kan nggak hanya UMKM aja, pendampingan kekerasan aja, tapi menyeluruh. Tujuannya apa, kesetaraan dan melawan kemiskinan tadi," ujar Masnuah kepada detikcom beberapa waktu lalu saat Jelajah UMKM.

Berdiri pada tahun 2005, Puspita Bahari kini memiliki ratusan anggota. Semuanya tersebar di tiga desa yakni Desa Morodemak, Desa Purworejo, dan Margolinduk, terlebih masing-masing desa kini punya sentra olahannya sendiri dari hasil laut.

"Puspita Bahari punya empat sentra, ada perikanan tangkap, sentra pengolahan hasil laut, sentra ikan kering dan sentra terasi. Perikanan tangkap itu anggotanya di dua desa, di Purworejo sama Morodemak. Terus ikan kering dan olahan laut itu di Morodemak, dan sentra terasi itu ada di 3 desa itu juga," ungkapnya.

Lebih lanjut, dia menuturkan awal perjuangan Puspita Bahari sendiri tidaklah mudah, pro kontra sering terjadi di masyarakat karena dianggap sebuah komunitas yang tidak memberikan manfaat. Namun, kini setelah 15 tahun lebih berjuang Puspita Bahari mampu buktikan manfaatnya, dari mulai memperjuangkan identitas nelayan perempuan hingga mampu memproduksi berbagai produk UMKM.

Hidayah (42) penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) asal Kabupaten Demak misalnya, pada mulanya, ia mengaku hanya ibu rumah tangga biasa yang kesehariannya mengurus anak. Tapi kini mampu berdikari secara ekonomi lewat usaha olahan hasil laut, seperti ikan sriding krispi, rempeyek hingga kerupuk ikan.

"Semua itu berkat Puspita Bahari (lewat olahan ikan ini) dalam sehari pendapatan sekitar ratusan ribu lebih kalau sebulan Rp 3 jutaan itu belum kepotong makan," jelasnya.

"Saya bangga karena dulunya saya ndak bisa apa-apa sekarang saya jadi bisa menyekolahkan anak saya sampai kuliah dan bisa membangun rumah sendiri di Jepara, membeli tanah juga. Itu usaha dan keringat sendiri, tanpa suami, jadi hasil ini saya sedikit demi sedikit saya tabung juga," jelas Dayah.

Sementara itu, Sri Hayati (37) anggota Puspita Bahari lainnya juga mampu berdikari dengan cara menjadikan olahan ikan kering sebagai ladang bisnis. Pada mulanya ia hanya ibu rumah tangga yang hanya punya kantin kecil untuk menjual nasi. Kini lewat olahan ikan kering ia bisa menambah pundi-pundi rezeki.

"Saya bisa meraup omzet kotor untuk olahan ikan kering ini di kisaran Rp 1.000.000 - Rp 3.000.000 per bulannya," jelas Sri

Diketahui, anggota Puspita Bahari kerap mendapatkan pelatihan usaha dari Rumah BUMN BRI. Pelatihan tersebut mencakup desain kemasan hingga pengoptimalan bisnis produk UMKM. Selain itu, Puspita Bahari juga mendapat bantuan CSR dari BRI berupa alat pendukung produksi.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

(mul/mpr)