Suka Duka Perempuan Pelaut di Atas Kapal

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 16 Mar 2021 06:57 WIB
Jakarta -

Seorang siswi magang berkali-kali dicabuli hingga hendak diperkosa kapten kapal berinisial AK. Selama ini, perempuan memang minoritas dalam industri pelayaran. Oleh karena itu, banyak suka duka yang dialami oleh para srikandi yang bekerja di atas kapal.

Seperti dilansir dari ABC Indonesia, para perempuan ini kerap mendapat stigma, mulai dari dinilai lemah hingga rentan pelecehan seksual. Tapi Indonesian Lady Seafarers (ILS) ingin mengubah hal itu.

Organisasi yang menghimpun sekitar 200 pelaut perempuan di Indonesia menyuarakan semakin terbatasnya kesempatan bagi mereka berkarier di industri ini. Koordinator ILS Asia Yudha Ermerra membenarkan hal itu.

"Sekarang kesempatan perempuan menjadi pelaut yang benaran pelaut di kapal masih sulit," ujarnya, 8 Maret 2019.

"Bisa bergabung ke kapal saja sudah beruntung, apalagi bisa berkarier sampai menjadi nakhoda," tambah Era, nama panggilannya.

Menurut Era, hal itu tidak terlepas dari masih kuatnya stigma terhadap perempuan pelaut di Indonesia.

"Banyak perusahaan menutup pintu karena menilai masa berkarier perempuan di pelayaran sebentar, paling 5 tahun. Setelah itu menikah dan tak berlayar lagi," katanya.

Faktor lain, menurut dia, yaitu menyangkut persoalan kenyamanan, karena perusahaan tidak mau berurusan dengan laporan miring seperti pelecehan seksual di kalangan pekerjanya di kapal.

Sementara itu, dian Ambar Wati, Mualim III di kapal tanker pengangkut Gas LPG juga mengungkapkan suka dukanya.

Sejak lulus jurusan nautika dari Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang tahun 2015, Dian Ambar Wati langsung berkarier di kapal tanker. Saat ini dia berpangkat mualim III, bertanggung jawab menavigasi kapal angkutan gas elpiji ke berbagai daerah di Indonesia.

"Perairan Indonesia cukup tenang. Paling, kecuali pas sedang cuaca buruk. Selebihnya yang perlu diwaspadai adalah lalu-lintas kapal dan nelayan," tuturnya.

Perempuan kelahiran Temanggung berusia 26 tahun ini mengaku pelaut perempuan Indonesia tidak mendapatkan perbedaan perlakuan dalam hal pendapatan maupun peluang jenjang karier.

Dia mengakui fitrah perempuan untuk melakukan peran domestik sebagai ibu rumahtangga seringkali menjegal karir mereka di pelayaran.

"Saya akui kebanyakan karier perempuan di laut itu berhenti setelah berkeluarga. Tapi tergantung masing-masing individu. Banyak pelaut perempuan berhasil meniti karier sampai jadi kapten meski telah menikah. Jadi peluang itu harusnya tetap dibuka untuk perempuan," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2