Tangguhnya Nelayan Perempuan Dicibir Pembawa Sial Saat Melaut

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Senin, 15 Mar 2021 13:08 WIB
nelayan wanita
Foto: Pradita Utama
Demak -

Apa yang terlintas pertama kali ketika mendengar sosok nelayan perempuan? Selain kagum dan tangguh atas kegigihannya, nelayan perempuan ternyata kerap kali mendapat dicibir hingga dihina.

Seperti halnya Nurkhafidoh (39) nelayan perempuan asal Dukuh Tambak Polo, Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak. Ia menceritakan pengalamannya saat melaut bersama suami, kala itu status pekerjaan di KTP masih ibu rumah tangga, belum menjadi nelayan perempuan seutuhnya.

Menurutnya, banyak perlakuan diskriminatif terhadap perempuan saat melaut menemani suami. Perlakuan tersebut membuat ia dan rekan sejawat nelayan perempuan lainnya menjadi tidak semangat untuk melaut. Padahal, perempuan punya andil sebagai tulang punggung yang menambah penghasilan keluarga.

"Jadi dulu pandangan orang lain ke nelayan perempuan itu macam-macam. Sebelum saya dapat KTP melaut saya diejek orang-orang, tetangga, katanya orang perempuan kok ikut melaut, bisanya di rumah masak saja!," kenang Khafidoh kepada detikcom beberapa waktu lalu saat Jelajah UMKM.

Selain itu, ejekan-ejekan serupa juga kerap dilakukan oleh para nelayan ketika bertemu di tengah laut. Menurut Khafidoh, mereka biasanya menghampiri secara langsung dengan perahu kecil berukuran di bawah 10 gross ton dengan tujuan untuk mencibir.

"Kalau di laut suka dipepet perahunya kemudian mengejek kalau sudah dekat. Jadi sebelum berangkat atau mau pulang (supaya nggak diejek) kita sembunyi di bawah (deck perahu), ya karena malu diejek," tuturnya.

Lebih lanjut, apa yang dialami Nurkhafidoh dialami juga oleh Siti Bauzah (60) yang sudah menjadi nelayan hingga 30 tahun lamanya. Bauzah kerap mendapat perlakuan diskriminasi secara verbal ketika melaut, lantaran fisiknya yang dianggap menyerupai laki-laki dan berwarna kulitnya gelap.

"Saya sering disebut Papua, Papua, gitu sama sesama nelayan," ungkapnya.

Selain itu, Bauzah dan nelayan perempuan lainnya juga sempat dicibir dan dianggap gak pantas untuk melaut, karena ada kepercayaan masyarakat sekitar ketika perempuan sedang mengalami menstruasi itu bisa mendatangkan kesialan.

"Perempuan kok melaut nggak pantas, kalau perempuan melaut itu pamali atau gak elok, karena dulu kan ada kepercayaan kalau perempuan itu nggak boleh di atas perahu, karena akan membawa sial," jelasnya.

nelayan wanitanelayan wanita Foto: Pradita Utama


"Semenjak mba Masnuah terjun ke Tambak Polo mendukung nelayan perempuan saya menjadi semangat dan tidak malu untuk melaut. Karena perempuan juga bisa bekerja kok tidak ada larangan," ungkapnya.Namun, kini lain cerita setelah dapat pengakuan dari negara dengan berubah profesinya di KTP menjadi nelayan perempuan. Khafidoh dan Bauzah kini bangga, ia tak malu lagi mengumbar aktivitas melaut untuk mendukung perekonomian keluarga. Sebab, perjuangannya bersama komunitas nelayan perempuan Puspita Bahari membuahkan hasil.

Diketahui, Masnuah merupakan anak nelayan kelahiran 1974 asal Rembang, Jawa Tengah. Perempuan 47 tahun ini merupakan pendiri Puspita Bahari, sebuah organisasi perempuan nelayan yang berjuang melawan kekerasan, bias gender, sekaligus memberdayakan ekonomi nelayan.

Salah satu perjuangan yang berhasil Masnuah dan kelompoknya lakukan adalah memberikan pengakuan pekerjaan nelayan untuk 32 anggotanya. Sebelumnya, kolom pekerjaan Khafidoh dan perempuan lainnya di KTP tertulis buruh, atau ibu rumah tangga, tapi kini berganti nama menjadi nelayan perempuan, sehingga mereka bisa mendapat hak asuransi.

"Perjalanan dulu itu nggak mudah, harus ada surat keterangan dari pemerintah desa, untuk menerangkan bahwa perempuan itu adalah nelayan, dan pekerjaannya nelayan, tapi dari desa sendiri dan pihak-pihak pemangku kebijakan lainnya waktu itu belum mendukung, dianggap perempuan itu gak pantas disebut nelayan," kenang Masnuah.

Sebagai informasi, Nurkhafidoh merupakan salah satu penerima BPUM yang disalurkan secara langsung oleh Bank BRI. Ia juga merupakan anggota dari Komunitas Nelayan Perempuan Puspita Bahari yang mendapat dukungan BRI dengan misi memberdayakan kemandirian ekonomi perempuan.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Pengrajin Rebana, Syiar Agama yang Menghasilkan Materi"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)