Potret Emansipasi Nelayan Perempuan Demak, Gagah Melaut Puluhan Kilo

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Senin, 15 Mar 2021 11:50 WIB
nelayan wanita
Foto: Pradita Utama
Demak -

Gerakan emansipasi yang dipelopori oleh Raden Adjeng Kartini melahirkan para perempuan tangguh di segala profesi. Hal itu pun tercermin dari semangat Nurkhafidoh menjadi salah satu di antara 27 nelayan perempuan yang diakui di Dukuh Tambakpolo, Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak.

Saban hari, perempuan berusia 39 tahun itu setia menemani suaminya Musafiqin (41) pergi melaut. Dari mulai menyiapkan perbekalan hingga menjaring ikan dan memasarkannya. Hal itu dia lakukan semata-mata karena sulitnya mencari orang yang mau membantu hingga tuntutan ekonomi yang membelenggu daerah pesisir.

"Saya sudah jadi nelayan ini kurang lebih 5 tahunan. Awalnya karena susah mencari ABK, akhirnya saya ikut karena kalau nggak ikut ya kebutuhan sehari-hari akan kurang. Sebelumnya kan ada ABK kemudian dia punya perahu sendiri jadi ABK saya tidak ada lagi," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Di atas perahu kecil berukuran di bawah 10 gross ton milik keduanya itu, Nurkhafidoh kerap berbagi tugas bersama suaminya. Misalnya, saat mesin dinyalakan oleh Musafiqin, ia memegang kemudi agar seimbang, setelahnya kemudi dipegang oleh suami. Sementara, menebar dan menambat jaring menjadi tugas bersamanya.

"Sebetulnya nelayan perempuan sama saja. Pembagian tugasnya ya paling suami memegang kemudi, kemudian kami perempuannya yang menyebar jaring, yang nggak bisa hanya ini mengontel mesin (menyalakan mesin). Mau bagaimana lagi ya, kita kerja sama-sama saling membantu dan tujuannya yang penting halal," ungkapnya.

Lebih lanjut, Nurkhafidoh menuturkan dirinya kerap melaut bersama Suami ke perairan Menco hingga perairan Semarang yang jaraknya puluhan kilometer dari desanya. Lama durasi melaut biasanya tidak menentu tergantung seberapa banyak tangkapan ikan yang didapat.

"Mulai berangkat melaut jam 2 pagi, menyiapkan bekal, sampai laut jam 4 pagi langsung menyiapkan jaring, kemudian jam 7 pagi diangkat, kemudian pulang jam 10 pagi, sampai rumah langsung jual ikan ke pengepul," terangnya.

nelayan wanitanelayan wanita Foto: Pradita Utama

Dia pun bercerita dulu untuk mendapatkan ikan 20 kg hingga 25 kg sangatlah mudah. Namun, kini untuk mendapat 10 kg sampai 15 kg saja sudah paling bagus, karena itu tidak bisa di dapat setiap hari. Cuaca dan oknum nelayan yang pakai alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan jadi salah satu faktornya.

Oleh karena itu, sebelum melaut ada doa yang selalu dipanjatkan oleh Nurkhafidoh, hal itu dilakukan demi kelancaran dan kemudahannya mencari ikan dan terhindar dari berbagai marabahaya yang biasa terjadi di tengah laut. "Ya Allah gusti semoga melaut hari ini tidak ada arad," tuturnya. Arad merupakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan yang dapat merusak ekosistem perikanan.

Diketahui, selain dihantui oleh nelayan jaring arad, Nurkhafidoh punya pengalaman buruk ketika di tengah laut. Kala itu, dia bersama suami sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah. Namun, kapal yang ditumpanginya bersama suami menabrak sebuah patok yang membuat perahu miliknya terjebak selama berjam-jam.

Senada dengan Nurkhafidoh, Siti Bauzah (60) juga memiliki pengalaman serupa bahkan ia sudah menjadi nelayan hingga 30 tahun lamanya. Faktor keterbatasan ekonomi keluarga dan kebutuhan empat anaknya untuk sekolah menjadi salah satu sebab dirinya mengarungi lautan bersama suami.

"Jadi saya memutuskan untuk melaut setelah menikah ketika suami melaut sendiri ndak ada teman, karena anak-anaknya perempuan semua, baru yang terakhir itu laki-laki, jadi itu keputusan awal saya untuk melaut. Karena ekonomi juga terbatas," ungkapnya.

Bauzah bersama suami merupakan salah satu nelayan kecil di Dukuh Tambak Polo yang kerap berani mengarungi lautan mencari ikan hingga menetap ke Semarang. Setiap hari hasil tangkapan Bauzah tidak menentu. Meski, ikan yang didapat bermacam-macam, hal itu tidak sebanyak yang diperkirakan.

"Biasanya dapat puluhan kg ikan. Ikannya ada ikan gerabah, selaen kedoan, pari, kepiting, rajungan, ikan bawal, campur-campur. Kalau lagi rezeki ya biasanya dapat Rp 200-300 ribu, tapi ndak tiap hari. Kadang besoknya ndak dapat apa-apa," tutur Bauzah.

Selama tiga dekade melaut itu banyak duka yang dialami oleh ibu yang memiliki lima anak ini. Salah satu yang paling menegangkan sepanjang hidupnya, ketika dirinya dan suami tenggelam di tengah laut imbas bagian depan perahunya ditabrak kapal cantrang berukuran di atas 10 gross ton.

"Dulu saya di tengah laut ditabrak kapal cantrang besar, saya dan suami juga ikut tenggelam karena perahunya itu ambles (tenggelam). Alhamdulillah, ABK kapal yang menabrak waktu itu langsung menolong dan diajak pulang ke rumahnya," jelasnya.

Sebagai informasi, Nurkhafidoh dan Bauzah merupakan salah satu penerima BPUM yang disalurkan secara langsung oleh Bank BRI. Ia juga merupakan anggota dari Komunitas Nelayan Perempuan Puspita Bahari yang mendapat dukungan BRI dengan misi memberdayakan kemandirian ekonomi perempuan.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Bunga Krisan Sidomulyo Yang Tetap Mekar di Era Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/mpr)