Polres Manado Tangkap Nakes yang Viral Tawarkan Jasa Ubah Hasil Tes COVID

Trisno Mais - detikNews
Sabtu, 13 Mar 2021 19:29 WIB
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) hadirkan laboratorium mini-layanan tes swab antigen bagi para pegawai. Hal itu dilakukan guna cegah COVID-19.
Ilustrasi swab antigen (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Manado -

Sebuah video pengakuan seorang pria ditawari jasa ubah hasil tes COVID-19 dengan metode rapid antigen dari reaktif menjadi nonreaktif dengan imbalan Rp 500 ribu beredar media sosial di Manado, Sulawesi Utara (Sulut). Si pria yang disebut bernama Agus mengatakan awalnya hasil tes COVID-nya menunjukkan reaktif.

"Hasilnya reaktif atau tidak, katanya reaktif," ujar pria tersebut seperti dilihat detikcom, Sabtu (13/3/2021).

Pria tersebut kemudian bercerita tenaga kesehatan (nakes) yang melayaninya tes rapid antigen kemudian menawari dirinya jasa mengubah keterangan dari 'reaktif' menjadi 'nonreaktif'. Nakes tersebut mematok harga Rp 500 ribu untuk jasanya.

"Cuma karena, dia yang nawarin, 'Saya bisa bantu, Masnya. Besok bisa pulang. Ini Rp 500 ribu. Kalau Rp 500 ribu, bisa saya bantu', dia bilang gitu," cerita si pria.

Dia pun akhirnya membayar Rp 500 ribu agar hasil tes COVID-nya berubah. "Iya saya bayarin," imbuh dia.

Dalam video yang viral, tampak potongan foto ruangan bercat merah dan putih dengan banner Lion Air di salah satu sisi. Narasi yang beredar oknum nakes tersebut melayani rapid antigen untuk penumpang Lion Air.

Terkait video viral itu, pihak kepolisian turun tangan. Polisi mendapati informasi yang viral tersebut adalah benar dan oknum nakes yang dimaksud sudah diamankan.

"Iya, sudah kita amankan pelakunya. Motifnya karena ekonomi," kata Kapolres Manado Kombes Elvianus Laoli saat dimintai konfirmasi detikcom, Sabtu (13/3/2021).

Belum jelas di mana si warga yang mengaku ditawari jasa ubah hasil tes COVID-19 itu memeriksakan diri. Namun Kepala Dinas Kesehatan Kota Manado dr Ivan Marthen menjelaskan, jika pemeriksaan dilakukan di bandara, nakes yang bertugas di bandara bukan dari Dinas Kesehatan (Dinkes).

"Silakan klarifikasi langsung kepada yang berkompeten. Saya menghargai otoritas bandara KKP," ucap Ivan.

Terpisah, pihak KKP Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado, Johanis Patari ikut buka suara. Dia memastikan kejadian tersebut bukan di Bandara Sam Ratulangi.

"Dalam video itu memang seperti ada tampak bandara di Manado, namun yang berbicara tidak ada lokasi di bandara. Coba perhatikan baik-baik gambar di belakang. Video itu bukan di Bandara Sam Ratulangi," terang Johanis.


Patari mengakui sebelumnya masalah rapid antigen palsu pernah terjadi. Namun sudah ditangani pihak berwenang.

"Pemalsuan pernah terjadi. Tapi sudah lewat satu minggu lalu. Itu sudah diproses di pengadilan. Saya lupa datanya. Bahkan pihak bandara pernah dipanggil pengadilan untuk menjadi saksi," pungkasnya.

(aud/aud)