Kejari Cilegon Tak Tutup Kemungkinan Tuntut Kebiri Pelaku Kejahatan Seksual

Muhammad Iqbal - detikNews
Jumat, 12 Mar 2021 14:28 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta -

Kejaksaan Negeri (Kejari) Cilegon tidak menutup kemungkinan bakal menuntut pelaku kejahatan seksual dengan hukuman kebiri. Namun jaksa perlu menelaah lebih lanjut apakah pelaku kejahatan seksual masuk kategori predator.

"Kejaksaan tidak menutup kemungkinan akan menambahkan tuntutan hukuman kebiri. Dengan catatan pelaku ini apakah masuk kategori predator atau bukan. Karena begini, kalau kejahatan asusila terhadap anak kan ada UU khusus UU Perlindungan Anak," kata Kasi Intel Kejari Cilegon Hasan Asyari, Jumat (12/3/2021).

Menurutnya, seorang pelaku kejahatan seksual biasanya terlebih dahulu dijatuhi hukuman sesuai UU Perlindungan Anak. Setelah hukuman dijatuhkan, pelaku diberi tanda khusus berupa gelang elektronik. Tanda itu akan mendeteksi apakah pelaku seorang residivis atau baru pertama melakukan kejahatan seksual.

"Hakim nanti kan memberi hukuman sesuai UU Perlindungan Anak. Dari situ ada tanda khusus berupa gelang elektronik. Nah, ketika ada kasus serupa, kita teliti dulu, pelaku ini masuk kategori predator atau baru pertama kali," tutur Hasan.

Kejaksaan, menurut Hasan, menilai tuntutan hukuman kebiri sebagai hukuman tambahan. Hukuman itu diberikan setelah pelaku memang masuk kategori predator seksual yang melakukan kejahatannya berulang kali dan memakan banyak korban.

"Intinya, kita tidak menutup kebiri diberikan kepada pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Tapi kalau di Banten saya belum dengar hukuman itu dijatuhkan ke seseorang," kata dia.

Sebelumnya, Kepala Kejari Cilegon Ely Kusumastuti menyebut perkara pidana di Cilegon 70 persennya kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Ely mengaku kaget karena, baru 8 bulan ia menjabat sebagai Kajari, kasus yang mencuat selama pandemi justru kejahatan seksual terhadap anak.

"Delapan bulan saya di sini kok hampir 70 persen kasusnya susila," kata Ely kepada wartawan, Jumat (12/3).

Kasus kekerasan seksual terhadap anak, selain dilakukan oleh orang dewasa, ada juga yang justru dilakukan oleh anak di bawah umur. Ely mencontohkan, ada kasus yang menimpa seorang korban perempuan di bawah umur di sebuah yayasan di Cilegon. Pelakunya juga anak di bawah umur.

"Contoh kelihatan, dalam satu yayasan sekolah, kakak kelas 'membegitukan' adik jelas. Adik kelasnya digilir. Tiga kakak kelas yang menggilir ini sudah dihukum," ujarnya.

(dwia/dwia)