Kapolresta Malang Diadukan ke Propam Polri Terkait Rasisme ke Mahasiswa Papua

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Jumat, 12 Mar 2021 14:24 WIB
Mahsiswa Papua Adukan Kapolresta Malang ke Propam Polri
Mahasiswa Papua mengadukan Kapolresta Malang ke Propam Polri (Adhyasta/detikcom)

Seperti diketahui, demo Hari Perempuan Sedunia di Kota Malang berlangsung ricuh, Senin (8/3). Massa pendemo merusak truk polisi. Mereka memecahkan kaca truk polisi sehingga petugas yang ada di balik kemudi terluka.

Massa pendemo berasal dari Aliansi Gerakan Perempuan Bersama Rakyat (GEMPUR). Secara bersamaan ikut pula massa pendemo dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA).

Pada saat massa GEMPUR bubar dan membatalkan long march, justru peserta aksi dari AMP dan IPMAPA bergerak dan menggelar orasi. Polisi bersama Satgas COVID-19 Kota Malang meminta pendemo bubar karena dinilai melanggar protokol kesehatan.

Tiga truk disediakan untuk mengevakuasi peserta aksi menuju tempat masing-masing. Negosiasi berjalan alot, pendemo menolak dievakuasi, dan justru berlaku anarkistis, dan sampai memecahkan kaca truk. Sejumlah mahasiswa diamankan dan dibawa ke Polresta Malang Kota. Malam harinya, para mahasiswa kemudian mendatangi Polresta Malang Kota untuk menjenguk rekannya.

Saat para mahasiswa hendak masuk, ada teriakan dari polisi bahwa mahasiswa dilarang masuk. Jika masuk, akan ditembak. Video teriakan polisi yang hendak menembak mahasiswa tersebut viral di media sosial dan aplikasi percakapan. Dalam video berdurasi 23 detik itu, hanya terdengar teriakan itu saja, tak terlihat siapa yang berteriak.

"....Halal darahnya, tembak! Kamu masuk pagar ini, kamu halal darahnya. Saya tanggung jawab," demikian suara terdengar di video yang viral.

Kapolresta Malang Kota Kombes Leonardus Simarmata mengatakan video yang viral tersebut adalah video yang telah dipotong. Karena dipotong, video itu tidak benar.

"Itu videonya dipotong. Jadi yang benar adalah mereka mencoba merangsek masuk ke dalam satuan saya. Itu pintunya kan ditutup. Mereka memaksa masuk, itu yang terjadi. Jadi itu videonya dipotong," ujar Leo.

Karena para mahasiswa memaksa masuk, kata Leo, secara otomatis dia tidak mengizinkan. Karena untuk masuk kantor polisi, harus ada aturannya.

"Mereka memaksa masuk. Saya katakan tidak boleh masuk. Kalau kamu masuk, itu ada aturannya. Kita punya SOP. Kalau ada yang masuk, merusak markas, kita lakukan tindakan tegas," tandas Leo.


(maa/maa)