Round-Up

Yang Belum Terungkap dari Supersemar Usai 55 Tahun Berselang

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 11 Mar 2021 20:50 WIB
Presiden Sukarno dan Suharto (AFP Photo/PANASIA-FILES)
Presiden Sukarno dan Soeharto (AFP Photo/PANASIA-FILES)

Begini keterangan Soeharto:

Saya atas nama daripada Presiden, karena wewenang daripada diambilken pada beliau to. Lantas kita kumpul dan akhirnya kita bubarken PKI tersebut.

Ya hanya satu kali itu saja saya gunaken daripada Surat Perintah Sebelas Maret itu, walupun kemudian Surat Perintah Sebelas Maret dikukuhkan oleh MPRS, ditetapkan Nomor 9, mempunyai kekuatan konstitusional, tapi toh memang ya tidak perlu untuk digunaken, hanya sekali itu saja.

Mantan Kepala Staf Kostrad saat 11 Maret 1966, Mayjen TNI (Purn) Kemal Idris, menyampaikan pandangannya, dimuat dalam buku Eros Djarot, 'Misteri Supersemar'. Menurutnya, Soeharto tidak melapor balik ke Sukarno begitu selesai melaksanakan tugas sebagaimana tertuang dalam Supersemar.

"Itu tidak dilaksanakan Soeharto, seolah-olah surat itu hilang dan dia mempergunakan itu untuk mendapatkan kekuasaan sendiri," kata Kemal.

"Memang, soal Supersemar nggak pernah direncana sebelumnya. Tapi di otak dia, barangkali, ah... ini kesempatan. Saya nggak tahulah. Itu menurut pikiran saya saja. Memang policy-nya Soeharto, ya kita sebetulnya tidak sadar pikiran jeleknya. Baru belakangan saya tahu," ujar Kemal.

3. Basuki Rachmad cs bawa surat Soeharto untuk diteken Sukarno?

Peristiwa proses lahirnya Supersemar juga 'dibidani' oleh tokoh sentral bernama Brigjen Basuki Rachmad. Dia adalah Menteri Dalam Negeri Kabinet Dwikora II Presiden Sukarno.

Selain Basuki, ada pula Menteri Perindustrian Brigjen M Jusuf dan Panglima Kodam V Jaya, Amirmachmud. Basuki cs mendatangi rumah Soeharto di Jakarta, dan Soeharto titip pesan kepada Basuki cs supaya disampaikan ke Sukarno.

Salah satu pesan yang terpenting, dikatakan Soeharto, "Sampaikan saja kalau saya diberi kepercayaan, keadaan ini (situasi negara) akan saya atasi."

"Tidak ada surat pesan surat perintah begini begini, he-he.... Karena dengan pesan itu, saya nilai dengan pertanyaan yang terakhir, beliau sudah tahu," kata Soeharto dalam video yang diunggah kanal YouTube HM Soeharto.

Jenderal TNI Anumerta Basuki Rachmat (Menkominfo via Wikimedia Commons)Jenderal TNI Anumerta Basuki Rachmat (Menkominfo via Wikimedia Commons)

Mantan Kakostrad, Mayjen TNI (Purn) Kemal Idris, menyatakan lain. Dia mengaku pernah membaca Supersemar. Dia menyatakan Soeharto di Jakarta menyerahkan surat ke Basuki Rachmat untuk diteken Sukarno di Bogor, surat itulah Supersemar.

"Terus Pak Harto tulis surat kepada Sukarno bahwa dia tidak bisa bertanggung jawab kalau Sukarno tidak memberikan kekuasaan kepada dia untuk mengatasi keadaan. Soeharto menyuruh Basuki Rachmat membawa surat itu ke Istana Bogor," kata Kemal dalam buku Eros Djarot, 'Misteri Supersemar'.

Entah bawa surat atau tidak, yang jelas Basuki menyampaikan pesan Soeharto ke Sukarno di Bogor. Sukarno meneken surat yang kemudian dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Halaman

(dnu/eva)