Cerita Warga Kampung Tangguh di Pamulang Pede Jualan Sesuai Prokes

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 11 Mar 2021 19:07 WIB
Ibu-ibu pelaku UMKM di RW 019 Villa Inti Persada, Pamulang Tangsel
Foto: Pelaku UMKM Kampung Tangguh Jaya 019 Pamulang (dok. Pengurus RW Perumahan Villa Inti Persada)
Tangerang Selatan -

Ada sebanyak 80 pelaku UMKM (usaha mikro kecil menegah) di Perumahan Villa Inti Persada, RW 019, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel) yang merasakan dampak positif dari Kampung Tangguh Jaya (KTJ) di wilayah mereka. Warga makin percaya diri memasarkan produk dagangannya.

"Karena Villa Inti Persada ini dijadikan Kampung Tangguh Jaya oleh Pak Kapolres, tentu membawa dampak bagi warga yang punya UMKM. Di sini ada 80 warga pelaku UMKM, tentunya kami makin percaya diri memasarkan barang atau makanan dan minuman jualan kami," ucap Koordinator UMKM Villa Inti Persada, Intan Mutiawati Firdaus kepada wartawan, Kamis (11/3/2021).

Intan menuturkan rasa percaya diri itu muncul karena Kampung Tangguh Jaya yang dikenal memiliki konsep penanganan penularan COVID-19 yang baik. Sehingga, warga Villa Inti Persada yang menjajakan produk mereka dapat meyakinkan pembeli bahwa produk mereka aman dari COVID-19 dan sudah melalui proses yang mengacu pada standar protokol kesehatan (prokes) COVID-19.

"Ya percaya dirinya di situ, jadi pembeli tidak ragu dengan produk warga di sini karena sesuai prokes, karena di sini juga ada program Kampung Tangguh Jaya yang fokus pada pencegahan penularan COVID-19," tutur Intan.

Intan menyebut banyak warga Villa Inti Persada terdampak COVID-19 yang alih profesi berjualan makanan dan minuman. Namun ada juga warga yang sebelum pandemi COVID-19 pun memiliki UMKM di bidang kerajinan tangan seperti membuat produk daur ulang sampah.

"Sebelumnya kan warga ini memasarkan produk mereka online. Mereka suka menawarkan dagangannya lewat grup (WhatApp Group). Lalu pengurus mendata, ternyata ada 80 pelaku UMKM di Villa Inti Persada ini. Nah kita adakan saja wadah UMKM RT 019, harapannya supaya produk warga di sini makin luas cakupan pemasarannya, usahanya makin maju," jelas Intan.

Intan menyebut, awalnya warga berjualan di grup WhatsApp tingkat RT. Dengan bergabung di UMKM RW 019, jangkauan pembeli mereka kini hingga tingkat RW, bahkan hingga dikenal di wilayah Pamulang, Tangsel.

"Sekarang produk-produk warga di sini mungkin sudah dikenal se-Pamulang. Ada yang jualan makanan, frozen food juga ada, ada juga ibu-ibu yang terdampak pandemi dan akhirnya buat masker, connector masker untuk yang berhijab," tutur Intan.

Simak berita selengkapnya di halaman berikutnya.

Intan menjelaskan sebelum ada Kampung Tangguh Jaya, warga sebenarnya sudah bersama-sama memiliki kegiatan untuk ketahanan pangan dan ekonomi, contohnya kaum bapak di sana membentuk kelompok tani hidroponik. Namun kebersamaan sempat meredup karena beberapa warga terpapar virus COVID-19. Setelah Kampung Tangguh Jaya didirikan di RW 019 Perumahan Villa Inti Persada, warga kembali bangkit dan produktif.

"Kampung Tangguh Jaya baru ada beberapa waktu lalu. Di sini sempat ada yang positif COVID, dan kegiatan sempat tidak aktif. Setelah ada Kampung Tangguh Jaya, warga kembali aktif lagi," ucap Intan.

Intan berharap UMKM RW 019 ini mendapat perhatian dari pihak Pemkot Tangsel sehingga Pemkot Tangsel dapat mengadakan pelatihan UMKM ke warga. Dia pun berharap UMKM RW 019 dapat unjuk gigi di pameran skala besar.

"Ke depannya kami berharap ada pelatihan dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk warga kami. Wah kalau itu (ikut serta di acara pameran skala nasional) sangat ingin," ungkap Intan.

Pelatihan Daur Ulang Sampah ke Warga

Salah satu warga Villa Inti Persada, RT 006, RW 019, Nita Katrina (56) merupakan pelaku UMKM di bidang kerajinan daur ulang sampah. Nita mengatakan UMKM-nya melibatkan sekitar 15 ibu-ibu di sekitar rumahnya.

"Awalnya dari bank sampah, limbah-limbah yang bisa saya proses menjadi daur ulang, pembuatannya saya libatkan ibu-ibu sekitar. Produknya macam-macam misalnya limbahnya plastik, kantong kresek saya manfaatkan dengan di-press, saya buat tas belanja, goodie bag, wadah tanaman," terang Nita.

Pandemi COVID-19 diakui Nita membuat proses produksi kerajinan tangannya terganggu. Di mana akhirnya pengurus lingkungan membuat pertemuan via Zoom Meeting agar pelatihan pembuatan produk daur ulang ini terus berjalan.

"Saat ini kan tidak boleh ada kegiatan berkumpul, akhirnya kami lewat Zoom, mengajarkan ibu-ibu di sini. Sebelum pandemi sih saya pameran ke mana-mana," kata Nita.

"Saat ini kita selama pandemi, untuk pemasukan pasti agak berkurang. Nah pengurus lingkungan membuat Zoom meeting supaya tetap produktif," imbuh Nita.

Nita berhadap adanya Kampung Tangguh Jaya dapat menjadi media promosi bagi produk-produk daur ulangnya. Dia juga berharap pelatihan tatap muka diperbolehkan kembali dengan catatan tetap menerapkan protokol kesehatan.

"Harapannya lewat Kampung Tangguh Jaya ini dipromosikan lah produk saya, diaktifkan lagi pelatihan pakai prokes. Saya ingin sekali mengadakan pelatihan misalnya minimal 10 orang, prokesnya silahkan diatur," tandas pemilik Suryadinata Art and Craft ini.

(hri/fjp)