Gubernur HD Ungkap 7 Strategi agar Sumsel Terbebas Karhutla Tahun Ini

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rabu, 10 Mar 2021 16:58 WIB
Pemprov Sumsel
Foto: Dok. Pemprov Sumsel
Jakarta -

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) melakukan upaya antisipasi sejak dini terkait kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan menghadapi musim kemarau tahun 2021. Hal itu ditandai dengan mengerahkan seluruh kekuatan personil maupun peralatan pemadaman.

Menurut Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, wilayah Sumsel banyak lahan gambut yang mudah terbakar ditambah lagi adanya prediksi BMKG di tahun ini, yang musim kemarau akan melanda Sumsel. Sehingga butuh kesiapan untuk antisipasi kebakaran utamanya di lahan gambut.

"Tentu kita akan terus mencari solusi, bagaimana agar lahan gambut tidak mudah terbakar. Sesuai dengan habitatnya basah dan berair," ucap HD, sapaan akrab dalam keterangan tertulis, Rabu (10/3/2021).

Hal ini ia ungkapkan pada apel Kesiapsiagaan Personel dan Peralatan Karhutla 2021 yang dipusatkan di Kebun Raya Sriwijaya Ogan Ilir (9/3). Lebih lanjut, kata HD, dalam upaya antisipasi Karhutla tersebut, setidaknya Pemerintah Provinsi Sumsel telah menyiapkan tujuh strategi agar Sumsel terbebas dari Karhutla tahun 2021 meliputi sinkronisasi satuan tugas provinsi dengan kabupaten.

"Membagi habis tugas pengendalian kebakaran hutan, kebun dan lahan dengan melibatkan semua stakeholder baik provinsi maupun kabupaten/kota. Selanjutnya, melakukan optimalisasi peralatan produksi yang ada pada kelompok tani untuk membantu pemadam kebakaran," jelasnya.

"Kita juga akan memperkuat sarana dan prasarana pemadam, serta personel terlatih pada regu pemadam kebakaran perusahaan perkebunan, maupun hutan tanaman industri," sambungnya.

Dia menambahkan pihaknya juga segera mengaktivasi posko-posko kebakaran yang ada di perusahaan, masyarakat peduli api, kelompok tani peduli api dan lain sebagainya. Di samping pemanfaatan dana desa untuk pengendalian hutan, kebun dan lahan.

Selain itu, Pemprov juga telah memiliki embung Konservasi sebagai salah satu laboratorium yang bisa dijadikan lokasi riset untuk mengetahui kelembaban tanah yang juga termasuk sebagai upaya pencegahan terjadinya karhutla.

Menurut HD, embung Konservasi Kebun Raya Sriwijaya dibangun di atas lahan rawa seluas 100 hektar dengan banyak fungsi, seperti pusat penelitian lahan basah dan sebagai tempat pendidikan, pelatihan ataupun magang.

"Sumsel ini memiliki lahan gambut. Tentu rawa bergambut ini rawan akan terjadinya Karhutla. Langka kita lakukan adalah dengan mencegah tidak berkibarnya api dari yang paling kecil hingga besar," terangnya.

Disisi lain, dia menilai, upaya pencegahan Karhutla di Sumsel telah dilakukan dengan kerja sama berbagai pihak, baik kementerian hingga BUMD hingga badan usaha. "Ini langkah progresif. Menunjukkan hasil pada 2020 nyaris dikatakan Sumsel bebas hotspot. Ini juga yang inginkan di tahun 2021 ini," tegasnya.

Dia juga menyebut tanggungjawab dalam pencegahan Karhutla bukan hanya dimiliki oleh instansi tertentu saja, tetapi di pundak semuanya, termasuk masyarakat Sumsel. Karena itu dia mengajak Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir untuk dapat memanfaatkan Embung Konservasi Kebun Raya Sriwijaya sebagai destinasi wisata baru bagi masyarakat luas.

"Fungsi ini dilakukan untuk menambah destinasi wisata baru bagi penduduk Sumsel, sekaligus menambah edukasi terhadap pencegahan Karhutla," paparnya.

Sementara itu, Bupati Ogan Ilir Panca Wijaya Akbar menyambut baik diresmikannya Embung Konservasi Kebun Raya Sriwijaya yang diharapkannya bisa memberikan dampak baik bagi pengetahuan masyarakat Ogan Ilir.

"Ini akan menjadi lokasi destinasi wisata edukatif yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Ogan Ilir dan Sumsel. Kita ucapkan terimakasih kepada gubernur Sumsel," tegasnya.

Di lain pihak, Kepala BPBD Sumsel Iriansyah mengatakan, pelaksanaan apel pencegahan Karhutla dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan personil dan peralatan. Dengan melibatkan pemerintah di semua tingkatan. Masyarakat, akademisi, hingga media untuk ikut terlibat dalam upaya pencegahan Karhutla.

"Apel ini melibatkan 1.000 orang peserta yang terdiri dari dari TNI, Polri, BPPD, RPK perusahaan, Dinas Kesehatan Ogan Ilir dan Provinsi, Pol PP Ogan Ilir dan Provinsi, Menwa dan lainnya. Selain itu sejumlah peralatan telah disiagakan di lokasi dan daerah rawan kebakaran. Seperti mesin pompa, pompa apung, selang, diesel, kendaraan pompa mulai dari mobil tangki air, motor trail yang sudah dimodifikasi, perahu, ketek tongkang, APD petugas lapangan, empat helikopter juga sudah disiagakan," pungkasnya.

(akn/ega)