Kisah Penjual Cendol Dawet Kumpulkan Uang 6 Tahun Biar Bisa Kuliah

Mustiana Lestari - detikNews
Senin, 08 Mar 2021 17:02 WIB
Cendol dawet
Foto: Erika Dyah
Karangploso -

Akses mendapatkan pendidikan tinggi bisa jadi sulit untuk sebagian orang dengan kemampuan ekonomi terbatas. Terlebih, tanpa beasiswa hampir dipastikan biaya yang diperlukan berjuta-juta.

Seperti yang dialami pedagang cendol dawet di Dusun Lasah, Desa Tawangargo Kabupaten Malang, Ahmad Junaedi (30). Dia mengaku harus menabung keras selama 6 tahun demi bisa mendapatkan pendidikan tinggi. Dia pun mengumpulkan Rp 300-400 ribu per bulan untuk bisa kuliah.

"Selama 6 tahun uang saya kumpulkan untuk kuliah saya hingga saat ini. Mungkin kalau ada kesempatan saya mau sekolah lagi," ungkap mahasiswa tingkat akhir jurusan Ekonomi Syariah di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Malang (STAINU Malang) kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Kesulitan Junaedi tak sampai situ saja, setiap harinya dia harus membagi waktu antara kuliah dan berdagang cendol dawet sagu keliling. Getirnya belajar sambil bekerja pun dia rasakan.

"Sulitnya teramat karena kita harus membagi pikiran berjualan dan bersekolah itu sudah luar biasa sulitnya. Kerjain tugas itu sambil jualan sambil tunggu pembeli. Waktu kepepet jualan sampai kerjakan tugas itu sudah biasa. " sambungnya.

Walau begitu, Junaedi mengaku tidak pernah terpikirkan untuk menyerah baik ketika mulai menabung selama 6 tahun atau saat duduk di bangku kuliah sampai saat ini.

"Karena cari ilmu itu walau tidak sampai mati tapi kewajiban. Capek sih jualan sambil kuliah tapi nikmatin aja dan ga mau pasrah, motivasi cari ilmu, nomor dua mengubah nasib," ucapnya sambil tersenyum.

Bahkan tujuannya lebih jauh, dia ingin mengubah cara pandang masyarakat di desa asalnya, Desa Tawangargo, Dusun Lasah, Kabupaten Malang untuk maju bersama lewat pendidikan.

"Sebenernya saya mau mengubah mindset warga karena mereka ngerasa SMP SMA sudah cukup sehingga gimana ini nasib teman-teman bisa berubah, saya mau memotivasi mereka," tutupnya.

Junaedi dan penjual dawet sagu lainnya di Desa Lasah menjadi anggota klaster UMKM binaan Bank BRI. Selama pembinaan ini, Bank BRI telah memberikan pelatihan agar mereka mampu mendongkrak daya jual produknya lebih baik. Bank BRI juga telah memberikan berbagai sarana dan prasarana untuk berjualan, seperti batok kelapa untuk wadah cendol, payung, gerobak dan lain sebagainya. Utamanya, Bank BRI juga menawarkan KUR untuk membantu mereka mengembangkan usaha.

Kisah Junaedi menjadi satu dari kumpulan kisah dalam program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia. Program ini mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Cerita Google Entaskan Warga India dari Kemiskinan Lewat Teknologinya"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)