Tentang Wayang Diapit Foto Ibunda-Bu Ani saat SBY Tanggapi KLB Demokrat

Mochamad Zhacky - detikNews
Minggu, 07 Mar 2021 19:00 WIB
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), merespons terpilihnya Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menjadi Ketua Umum Partai Demokrat lewat agenda yang diklaim sebagai kongres luar biasa (KLB). SBY menuding Moeldoko telah melakukan kudeta bersama orang dalam partai. Hal itu disampaikan di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/3/2021).
Foto: SBY (Antara Foto/Asprilla Dwi Adha)
Jakarta -

Background yang dipajang di belakang Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat konferensi pers guna menanggapi acara yang diklaim sebagai Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat mencuri perhatian. Background di belakang SBY itu dinilai memiliki makna tersendiri.

SBY menggelar konferensi pers di kediamannya di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/3/2021) malam, untuk merespons agenda yang diklaim sebagai KLB Demokrat yang diselenggarakan di Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut). Ada pajangan wayang yang berada tepat di belakang SBY, yang diapit foto almarhumah Ani Yudhoyono dan sang ibunda SBY.

Menurut pakar budaya Jawa dari Universitas Indonesia (UI) Darmoko, penempatan wayang yang diapit oleh foto istri dan ibu SBY memiliki makna tersendiri. Sebelum masuk ke maknanya, Darmoko lebih dulu menjelaskan wayang yang berada di belakang SBY.

"Itu namanya di dalam jagat pewayangan, gunungan atau kayon. Wayang itu, sekali lagi saya katakan, kalau di istilah jagat pewayangan itu namanya gunungan atau kayon. Dinamakan gunungan itu karena bentuknya menyerupai gunung. Nah, itu dinamakan kayon karena kayon itu secara harfiah kan berasal dari kata kayu, mendapat sufiks atau akhiran an. Jadi itu sebetulnya kayu dalam arti pohon," ungkap Darmoko, saat berbincang dengan detikcom, Minggu (7/3/2021).

"Cuma itu memang mempunyai ekspresi simbolik. Ada simbol-simbol. Kalau di dalam dunia pewayangan itu kan, simbol-simbol itu kan sesuatu yang kita sebut sebagai pasemon, yang semu itu disamarkan, atau ada sesuatu yang disembunyikan. Maka itu harus mencari maknanya," imbuhnya.

Gunungan di belakang SBY diapit foto almarhumah Ani Yudhoyono dan sang ibunda SBY. Foto: Gunungan di belakang SBY diapit foto almarhumah Ani Yudhoyono dan sang ibunda SBY. (Screenshot)

Gunungan sendiri ada dua jenis, yakni gunungan lanang (laki-laki) dan gunungan wadon (perempuan). Darmoko menyebut gunungan yang berada di belakang SBY adalah gunungan lanang. Gunungan merupakan simbol alam semesta.

"Kembali kepada gunungan itu, kayon itu sendiri, karena memang gunungan atau kayon itu kan sebenarnya sebagai simbol alam semesta, kehidupan secara menyeluruh. Hubungan manusia dengan lingkungannya, manusia dengan manusia lain, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan. Itu ada di dalam kehidupan kayon itu, di dalam gunungan itu," ucap Darmoko.

Jika dilihat, ada bentuk seperti gapura dalam gunungan yang berada di belakang SBY. Bentuk seperti gapura itu, menurut Darmoko, sebagai salah satu ciri gunungan lanang.

"Jadi gunungan lanang itu biasanya dalam bentuk ekspresi rupa gapura. Makanya gapura. Nah ada juga gunungan yang satunya, gunungan wadon, ekspresinya dalam bentuk kolam, di situ ada gambar ikan, air dan sebagainya. Kemudian, kalau gunungan lanang di dalam tradisi dan konvensi pewayangan itu kalau di balik, ya dari seni rupanya, itu biasanya ada ekspresi warna kemerahan. Ada api yang berkobar," papar Darmoko.

Darmoko menjelaskan gapura yang berada di gunungan SBY diartikan sebagai simbol istana. Sedangkan gambar seperti hewan yang berada di samping gapuranya diartikan sebagai raksasa yang menjaga istana.

"Kemudian gapura itu, simbol istana kan ya. Gapura itu biasanya pintu masuk ke dalam istana. Nah itu (dalam gunungan di belakang SBY) kan ada gapuranya. Itu biasanya, ornamen yang menggambarkan, biasanya sebelum masuk istana harus melewati gapura dulu. Terus di sebelah gapura, kiri dan kanan itu, ada pejaganya yang membawa pedang, tameng. Nah itu, biasa orang di dalam dunia pewayangan dan pedalangan itu mengatakan, itu sebagai cingkarabala dan balaupata, bentuknya raksasa itu. Jadi ini ekspresi seperti, supaya bagi mereka yang akan masuk itu harus izin, harus mendapatkan izin dari yang menjaganya itu, cingkarabala dan balaupata itu, sehingga ekspresinya itu menakutkan, menyeramkan, makanya raksasa," tutur Darmoko.

Lalu, apa sebenarnya makna gunungan di belakang SBY? Baca di halaman berikutnya.

Tonton juga Video: Soal KLB Demokrat, Mahfud: Pemerintah akan Selesaikan Secara Hukum

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2