Menristek Ungkap Kesulitan Pengembangan Vaksin di Indonesia

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 02 Mar 2021 15:11 WIB
Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro menyebutkan, pariwisata jadi salah satu sektor yang paling terpukul karena adanya pandemi COVID-19.
Foto: detikcom
Jakarta - Menristek/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro, menyampaikan alasan pengembangan vaksin di Indonesia tidak secepat China. Menurutnya, kunci dari pengembangan vaksin bisa cepat adalah riset atau RnD (research and development) dan pabriknya saling terintegrasi.

"Kenapa China bisa kenapa kita tidak, jawabannya adalah kita lihat background-nya, kunci dari negara bisa menguasai vaksin, apalagi menghasilkan vaksin dengan cepat, itu adalah karena RnD-nya sudah kuat, dan yang kedua RnD-nya integrated dengan manufakturnya, justru Sinovac, Pfizer, AstraZeneca, Jhonshon and Jhonson itu semua manufakturnya," kata Bambang dalam acara yang disiarkan di YouTube Kemenristek, Selasa (2/3/2021).

Ia mengungkap pengembangan vaksin yang terintegrasi antara pabrik dan riset RnD merupakan langkah paling ideal. Sebab, dari awal telah diketahui kapasitas pabriknya sehingga risetnya tinggal diarahkan sesuai dengan kapasitas pabrik tersebut, sedangkan di Indonesia belum saling terintegrasi.

"Bayangkan kalau RnD nya mulai duluan atau mulai sendiri, manufacturing-nya kemudian mencoba menyesuaikan di tengah atau di akhir, itu yang mohon maaf terjadi dengan kita, karena memang belum ada pengalaman. Dan ini lah momen adanya pandemi ini harus menjadi pelajaran bagi kita bahwa adanya pandemi ini harus menjadi pelajaran buat kita bahwa pengembangan vaksin harus kita lakukan secara mandiri dari hulu sampai hilir," ujarnya.

Bambang mengatakan di hilir Indonesia memang telah ada Bio Farma, tetapi untuk risetnya masih harus dikembangkan. Tantangan lainnya adalah peralihan dari lab ke pabrik tersebut untuk menciptakan vaksin.

"Peralihan dari lab ke manufacturing ternyata itu proses yang harus dipelajari dan harus ada experience-nya tidak bisa ujug-ujug begitu dapat bibit vaksin langsung istilahnya dikirim ke pabrik langsung jadi. Jadi ada learning process yang harus kita lalui tapi lebih baik kita bersusah-susah sekarang, tapi ke depannya mudah-mudahan kita bisa lebih mandiri dalam pengembangan vaksin," ujarnya.

Bambang mengungkap China telah memiliki sistem terintegrasi antara pabrik dan tim risetnya, salah satunya Sinovac. Ia menyebut dibutuhkan sekitar 8 bulan dari awal virus Corona di Wuhan hingga uji coba tahap ketiga pada Juli.

"Tentunya untuk sampai kepada vaksin yang diuji klinis berarti mereka sudah mendapatkan bibit vaksin dengan virus yang dimatikan, sudah melakukan proses pembersihan, sudah melakukan optimasi di pabrik sampai akhirnya bulan Juli siap di uji klinik tahap 1, 2, 3, bahkan tahap 3 yang di Indonesia di mulai bulan September," ujarnya. (yld/tor)