KPK Duga Edhy Prabowo Bagi-bagi Duit Hasil Suap Ekspor Benur ke Sejumlah Pihak

Farih Maulana Sidik - detikNews
Selasa, 02 Mar 2021 13:46 WIB
Gedung baru KPK
Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta - KPK menduga Edhy Prabowo membagikan uang dari hasil suap ekspor benih lobster atau benur ke sejumlah pihak. Hal itu terungkap setelah penyidik KPK memeriksa saksi bernama Syammy Dusman.

Syammy Dusman diperiksa KPK pada Senin, 1 Maret 2021. Dia tercatat sebagai karyawan swasta. Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri tak menyebut kepada siapa atau pihak mana saja Edhy Prabowo membagikan uang suap ekspor benur tersebut.

"Syammy Dusman didalami pengetahuannya terkait dugaan aliran sejumlah uang yang dibagikan oleh tersangka EP (Edhy Prabowo) ke berbagai pihak yang sumbernya juga diduga dari kumpulan pemberian sejumlah uang oleh para eksportir benur yang mendapatkan izin di KKP pada 2020," kata Ali kepada wartawan, Selasa (2/3/2021).

Ali menyebut KPK juga memeriksa dua saksi bernama Mulyanto dan Asep Abidin Supriatna, yang tercatat sebagai karyawan swasta. KPK mendalami terkait pengelolaan uang hasil suap hingga pembelian rumah Edhy Prabowo yang uangnya dari hasil suap.

"Didalami pengetahuan terkait dugaan pembelian rumah oleh tersangka EP melalui tersangka AM (Amiril Mukminin) yang sumbernya diduga dari kumpulan pemberian sejumlah uang oleh para eksportir benur yang mendapatkan izin di KKP tahun 2020," ucap Ali.

KPK juga memeriksa tersangka Amiril Mukminin. Amiril merupakan mantan sekretaris pribadi Edhy Prabowo.

"Amiril Mukminin diperiksa sebagai tersangka sekaligus saksi untuk tersangka EP dkk, didalami pengetahuannya terkait dugaan pembelian aset berupa tanah dan bangunan milik tersangka EP," katanya.

Dalam kasus ini, total ada tujuh tersangka yang ditetapkan KPK, termasuk Edhy Prabowo. Enam orang lainnya adalah Safri sebagai mantan staf khusus Edhy Prabowo, Andreau Pribadi Misanta sebagai mantan staf khusus Edhy Prabowo, Siswadi sebagai pengurus PT Aero Citra Kargo (PT ACK), Ainul Faqih sebagai staf istri Edhy Prabowo, Amiril Mukminin sebagai sekretaris pribadi Edhy Prabowo, serta seorang bernama Suharjito sebagai Direktur PT DPP.

Dari keseluruhan nama itu, hanya Suharjito yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap, sisanya disebut KPK sebagai penerima suap.

Secara singkat, PT DPP merupakan calon eksportir benur yang diduga memberikan uang kepada Edhy Prabowo melalui sejumlah pihak, termasuk dua stafsusnya. Dalam urusan ekspor benur ini, Edhy Prabowo diduga mengatur agar semua eksportir melewati PT ACK sebagai forwarder dengan biaya angkut Rp 1.800 per ekor.

KPK menduga suap untuk Edhy Prabowo ditampung dalam rekening anak buahnya. Salah satu penggunaan uang suap yang diungkap KPK adalah ketika Edhy Prabowo berbelanja barang mewah di Amerika Serikat (AS), seperti jam tangan Rolex, tas LV, dan baju Old Navy.

Dari nama-nama tersangka di atas, Suharjito tengah menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta. Dia didakwa memberi suap ke Edhy Prabowo sebesar Rp 2,1 miliar terkait kasus ekspor benur.

"Terdakwa Suharjito telah melakukan beberapa perbuatan yang mempunyai hubungan sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai perbuatan berlanjut, yaitu memberi atau menjanjikan sesuatu, yaitu memberi sesuatu berupa uang seluruhnya USD 103 ribu dan Rp 706.055.440 kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara, yaitu kepada Edhy Prabowo selaku Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia," ujar jaksa KPK Siswandono di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (11/2).

Saksikan juga 'KPK Sita Vila dan Tanah Milik Edhy Prabowo di Sukabumi':

[Gambas:Video 20detik]



(fas/dwia)