Kecil Sering Sakit, Pria di Bantul Jual Jamu hingga buat Kampung Wisata

Inkana Putri - detikNews
Selasa, 02 Mar 2021 13:33 WIB
Kampung Jamu di Bantul
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Bantul -

Sejak duduk di Sekolah Dasar (SD), Sutrisno (61) mengaku sering mengalami sakit. Keluar masuk rumah sakit sudah sering ia lakoni.

Meski telah sering bolak-balik berobat, Sutrisno mengatakan rasa sakitnya masih terus berlanjut hingga ia SMP. Bahkan, saat itu ia nyaris meninggal karena alergi suntikan penicillin. Karena sakit itu, ia kemudian terjun ke bisnis jamu tradisional hingga membuat kampungnya jadi desa wisata jamu di Bantul. Ini kisahnya.

Ceritanya Sutrisno sadar terlalu sering berobat ke rumah sakit bisa menyebabkan kelebihan obat kimia. Oleh karena itu, ia pun mencoba pengobatan lain. Sutrisno yang saat itu sering sakit lambung memutuskan mencoba meracik jamu dari tumbuhan-tumbuhan herbal.

"Tiap hari minum obat. Saya berpikir kok diri saya seperti apotek. Kalau dibiarkan seperti ini berarti saya mengonsumsi bahan kimia terus menerus, berarti saya hidup dengan ketagihan atau keracunan. SMP saya pernah kena suntikan penicilin. Saya alergi penicillin, itu saya hampir mati karena suntikan itu," kata dia kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Sutrisno bercerita pertama kali ia belajar membuat jamu berawal dari sebuah buku karangan dokter di Surabaya. Saat itu ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

"Saya pelajari. Waktu itu saya pas kebetulan sakit lambung, kalau sekarang seperti maag. Itu saya suruh nyarikan tumbuhannya karena saya nggak hafal tapi saya bisa meresepi karena lihat di situ. Alhamdulillah sembuh," katanya.

Akhirnya sejak saat itu Sutrisno mulai mengonsumsi jamu jika sakit. Bahkan, ia juga sering membuatkan jamu untuk keluarganya yang sedang sakit. Berkat jamu, sakit yang dialami Sutrisno pun mereda.

Kampung Jamu di BantulKampung Jamu di Bantul Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

"Setelah menikah, istri kena penyakit diabetes. Saya buka buku lagi, ternyata obatnya gampang. Saya bikin, terus ternyata istri kan kerja di rumah sakit. Ternyata di sana yang kena diabetes banyak. Terus temen-temennya istri minta saya ngeramu jamu, nanti harganya manut. Akhirnya saya ngeresepi, terus saya jual," ungkapnya.

Soal bisnis jamunya, Sutrisno mengatakan dirinya berjualan jamu bukan hanya demi keuntungan melainkan juga hasrat untuk menolong. Hal inilah juga yang akhirnya membuat Sutrisno berinisiasi untuk membangun Kiringan menjadi desa wisata.

"Saya lewat jamu ini semata-mata jual jamu sekaligus bisa untuk nolong orang. Tak tekuni, terus kebetulan saya ingin bikin rumah di sini (Kiringan). Kebetulan di sini dulu penjual jamunya belum banyak banget. Karena udah ada beberapa ibu-ibu yang jualan jamu, terus saya di sana sudah mengembangkan jamu secara pribadi. Waktu itu belum jadi desa wisata," katanya.

"Sebenarnya desa wisata ini udah agak lama, tapi dapat SK Bupati baru tahun 2016," imbuhnya.

Berkat kerja kerasnya tersebut, kini Sutrisno dipercaya menjadi Ketua Desa Wisata Jamu Gendong atau Desa Wisata Jamu Kiringan. Bahkan, Desa Wisata Kiringan pun telah banyak memikat para turis mancanegara. Bahkan, dirinya juga menjadi pelopor hadirnya paket wisata dan kursus jamu di Kiringan.

Kampung Jamu di BantulKampung Jamu di Bantul Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

"Dulu paket wisata saya coba dulu sendiri belum di floor-kan ke kampung. Setelah saya bisa kerjakan sendiri baru saya infokan ke masyarakat. Saya juga melatih di beberapa tempat untuk kursus jamu sudah sampai di Samarinda atau NTT," katanya.

"Terus saya juga buka kurus Jamu Mitra Sehat di daerah Jawa Barat melalui blog, saya pernah ajarin kursus jamu ke orang Belanda, Jepang dan Malaysia. Kalau di Kiringan sendiri, sudah ada turis India, Australia dan pelajar se-Asia Tenggara (yang kurus) karena Kiringan termasuk Desa Wisata jadi banyak yang datang untuk studi banding ke Kiringan," paparnya.

Tak hanya sukses menghadirkan desa wisata di Kiringan, jamu buatan Sutrisno juga bisa dibilang laris di pasaran. Sutrisno bercerita ia pernah mendapatkan omzet hingga Rp 4 juta per hari, bahkan jamunya juga telah menembus pasar Malaysia.

"Pesanan terbanyak waktu itu sekitar Rp 3-4 juta satu kali pemesanan pas ke Jakarta. Kalau ke luar negeri jamu saya baru ke Australia sama Malaysia. Tapi kalau di dalam negeri, jamu saya dua kali juga pernah dikirim ke Papua, Kalimantan Selatan, dan Pulau Jawa udah sering.

Hingga saat ini, Desa Wisata Jamu Kiringan sering kali menjadi salah satu desa wisata terkenal di Bantul dan mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Tak hanya itu, Kiringan juga mendapatkan bantuan dari BRI berupa gapura, yang kini menjadi ikon Dusun Kiringan.

"Ada banyak UMKM di Bantul mulai dari perdagangan, pertanian, jasa, industri yang butuh sentuhan dari BRI. Salah satunya UMKM yang dikelola BRI Unit Jetis, yakni UMKM jamu Kiringan sudah terjalin lebih dari 5 tahun. Dari hubungan yang baik ini, BRI telah memberikan bantuan CSR berupa tugu pintu masuk (gapura) kampung jamu Kiringan," jelas Manager Bisnis Mikro BRI Bantul, Joko Wahyudiarto.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

Saksikan juga 'Sejarah Jamu, Semarang':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ega)