Cekok Jamu, Tradisi Masyarakat Jawa Atasi Anak Susah Makan

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Selasa, 02 Mar 2021 10:50 WIB
Tradisi cekok jamu bagi anak-anak di Bantul
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Bantul - Orang tua yang memiliki bayi atau balita pasti sudah sering dihadapkan dengan kondisi anak yang pilih-pilih makanan atau bahkan enggan untuk makan. Kondisi ini sering membuat orang tua cemas karena takut tumbuh kembang anak jadi terhambat.

Ada banyak cara untuk mengatasi masalah anak susah makan, salah satunya yaitu 'cekok' jamu. Cekok jamu merupakan tradisi yang sudah melekat di masyarakat Jawa, dan jadi andalan warga Yogyakarta bahkan di era modern seperti saat ini, karena terbuat dari bahan-bahan alami.

Dalam bahasa Indonesia, 'cekok' berarti mengucurkan jamu langsung ke dalam mulut. Penjual jamu asal Kiringan, Bantul, Murjiwati menjelaskan tradisi cekok jamu untuk anak dan balita sudah diwariskan turun-temurun sejak zaman dahulu, sekitar tahun 1970.

"Sejak dulu udah ada, waktu kecil dicekoki sama si mbah. Itu udah ada, tradisi, warisan juga. Sejak kecil udah dicekoki sampai nangis," katanya.


Selama dicekok, anak biasanya akan dipegangi oleh orang tua agar tidak berontak. Sementara mbok penjual jamu sudah bersiap untuk menjejalkan ramuan jamu yang sudah diracik dan dibungkus kain ke dalam mulut anak.

Meski sering membuat anak menangis, tapi para orang tua nampak tidak kapok dan tetap menjadikan cekok jamu sebagai alternatif saat anaknya susah makan. Sebab, tradisi ini diyakini ampuh mengembalikan dan menambah nafsu makan anak.

"Jamu untuk anak-anak biar mau makan. Untuk menambah nafsu makan, biar nafsu makannya ada," terangnya.

Tradisi cekok jamu bagi anak-anak di BantulTradisi cekok jamu bagi anak-anak di Bantul Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom



Tidak hanya itu saja, ia mengatakan cekok jamu juga bisa meningkatkan sistem kekebalan sehingga anak lebih kuat dan tidak mudah terserang penyakit.

"Untuk kekebalan. Nggak gampang masuk angin. Anaknya sering masuk angin, kalau dikasih minum jamu biasanya menambah kekuatan. Perutnya juga enak," tuturnya.

Meski dipercaya ampuh tingkatkan nafsu makan, Murjiwati tidak menganjurkan orang tua mencekoki anak setiap hari. Menurutnya, cekok jamu cukup dilakukan dua kali dalam seminggu dan diberikan pada anak berusia di atas 6 bulan yang sudah dikenalkan dengan MPASI. Hal ini mempertimbangkan kesiapan sistem pencernaan anak untuk menerima makanan dan minuman di luar ASI.

"Kalau minum cekok paling dua hari sekali. Kalau setiap hari masih kecil nanti nggak mau. Atau satu minggu dua kali aja udah (cukup)," ungkapnya.

"Kalau udah 7 bulan atau 6 bulan bisa (dicekoki jamu), kalau udah di ndulang, dikasih makan (MPASI). Kalau belum, kasian nanti ususnya sakit," imbuhnya.

Tradisi cekok jamu bagi anak-anak di BantulTradisi cekok jamu bagi anak-anak di Bantul Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom



Lebih lanjut, Murjiwati menjelaskan rempah-rempah yang terkandung dalam ramuan tradisional untuk cekok jamu. Adapun rempah tersebut terdiri dari temu ireng, temulawak, kunyit, daun pepaya, dan brambang puyang atau cabai dan puyang (lempuyang).

Ari (31), salah seorang pembeli jamu cekok mengatakan, dirinya memberikan jamu cekok agar anak mau makan. Sekaligus mengatasi penyakit batuk dan pilek.

"Buat penambah nafsu makan, terus bisa buat batuk, pilek," ujarnya.

Selain Ari, ada pula Isnaini (28), ibu rumah tangga yang cukup sering memberikan jamu cekok untuk buah hatinya yang kini berusia 9 bulan.

"Biar nafsu makan, biar sehat. Yo nggak sih, paling (cekoki jamu) seminggu sekali," tuturnya.

Sebagai informasi, jamu di Bantul juga masuk dalam klaster UMKM binaan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Manager Bisnis Mikro BRI Bantul, Joko Wahyudiarto mengatakan, pihaknya telah memberikan bantuan berupa mesin penggiling dan genset untuk meningkatkan produktivitas jamu di Kiringan, Bantul, Yogyakarta. Dan akan menyalurkan bantuan lain, baik berupa bantuan CSR ataupun pelatihan.

"Dalam waktu dekat BRI akan memberikan bantuan CSR juga berupa peralatan pembuatan jamu berupa parut dan lain-lain sehingga pengembangan bisnis dari jamu Kiringan bisa terangkat. Bahkan, wacana ke depan kita harapkan ada semacam sekolah untuk belajar pembuatan jamu sehingga jamu akan lebih dikenal dan merakyat," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

Saksikan juga 'Proses Peracikan Jamu, Semarang':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ega)