Cerita Perjuangan Perempuan Dusun Kiringan Jaga Warisan Jamu Leluhur

Inkana Putri - detikNews
Senin, 01 Mar 2021 11:21 WIB
Penjual jamu
Foto: Rifkianto Nugroho
Bantul - Ada banyak hal menarik yang dapat ditemukan di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Seperti halnya saat mengunjungi Dusun Kiringan di Canden, Jetis. Berbeda dari kebanyakan dusun lainnya, hampir seluruh perempuan di Kiringan merupakan penjual jamu keliling. Konon katanya, berjualan jamu merupakan tradisi leluhur yang terus diturunkan secara turun-temurun ke generasi selanjutnya.

Sarijem, salah seorang penjual jamu di Kiringan mengaku telah berjualan sejak tahun 1975. Ia bercerita warisan berjualan jamu ini sudah dilakukan oleh nenek moyangnya sejak dulu.

"Waktu itu saya jual jamu sejak tahun 1975. Dulu masih gendong, pakai jarik (kain), kebaya, masih jalan nggak bawa sepeda. Sejak 1978 ada kemajuan bawa sepeda dan dari 2006 pakai motor," ujarnya kepada detikcom baru-baru ini.

"Turun temurun kalau saya, tadinya si mbahnya mbah saya jualan jamu, ibu saya, terus saya. Emang ya nggak sengaja daripada nggak kerja ya ikutan jual jamu," paparnya.

Sementara itu, penjual jamu lainnya, Unun Matoyah menyebut dirinya mulai berjualan jamu karena ingin meneruskan warisan dari leluhurnya. Hal ini mengingat dirinya merupakan generasi ketiga dari Mbah Djoparto, orang pertama yang berjualan jamu di Kiringan.

"Saya mulai usaha jamu itu 2016. Saya itu belajar dari Dinas Koperasi DIY waktu itu. Saya minta sama Bu Dukuh karena saya itu keturunan ketiga dari Mbah Djoparto, tapi nggak ada yang usaha jamu. Karena Mbah Djoparto kan orang yang pertama kali jualan jamu di Dusun Kiringan. Kok generasi penerusnya nggak ada yang jualan jamu," ungkapnya.

Penjual jamuPenjual jamu Foto: Rifkianto Nugroho

Sama halnya dengan perempuan lainnya, Murjiwati juga menjual jamu untuk melanjutkan warisan neneknya. Hingga saat ini, wanita yang akrab disapa Mur ini telah berjualan jamu selama 35 tahun. Bahkan, racikan jamu yang dibuatnya pun merupakan warisan dari nenek moyangnya.

"Saya menjual jamu sejak tahun 1985, waktu itu umur 15 tahun sudah menekuni jual jamu. (Dulu) dari nenek saya, setelah nenek saya sudah tua itu ibu lanjutkan warisan (jualan jamu). Setelah itu si mbok saya sudah tua dan diganti saya," katanya.

"Pertama kali jualan jamu saya malu sekali kan saya masih kecil sudah jualan jamu pake sepedanya jelek sekali dan pake jarik (kain). Waktu mau jualan pertama masih dikasih tau meraciknya seperti ini. Jadi saya jualan sudah tau porsi-porsinya, saya jualan itu dari warisan nenek moyang," imbuhnya.

Di samping warisan para leluhur, omzet dari berjualan jamu yang cukup besar juga menjadi alasan para perempuan di Kiringan lebih memilih jualan jamu dibandingkan pekerjaan lainnya. Dalam satu hari saja, Mur dapat menghasilkan hingga Rp 600 ribu hanya dari berjualan jamu.

"Jamu itu labanya separo. Jadi, modalnya Rp 300 ribu, dapatnya Rp 600 ribu. Ibu bawa macem-macem. Ada 12 macem. Mesti habis kalau jualan alhamdulillah laris," katanya.

Meskipun menguntungkan, Mur mengatakan dirinya sempat tak bisa melanjutkan berjualan jamu karena kondisi ekonominya yang terpuruk saat diterpa gempa 2006 silam. Saat itu, Mur akhirnya memutuskan untuk meminjam Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI untuk modal berjualan jamu.

Kini, usaha jualan jamu Mur pun laris manis, bahkan ia dapat memperluas usaha lainnya di samping berjualan jamu. Dengan tabungannya dari berjualan jamu dan modal dari BRI, Mur kembali bisa berjualan jamu sekaligus ternak sapi untuk membiayai kehidupan keluarganya sehari-harinya.

"Waktu itu sekitar 2014, ibu mendapatkan modal usaha KUR pertama kali Rp 5 juta untuk modal saya jualan jamu pertama kali karena dulu (habis gempa) nggak punya apa-apa. Terus dapat modal lagi dari BRI Rp 15 juta itu untuk beli sapi seharga Rp 14,5 juta. Sampai sekarang sapi itu masih ada untuk bayar anak kuliah, 11 kali saya jual sapi untuk Rizky kuliah hingga lulus. Bantuan BRI KUR benar-benar membantu saya," ungkapnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

Saksikan juga 'Evolusi Pembuatan Jamu, Semarang':

[Gambas:Video 20detik]





Simak Video "Melihat Proses Pembungkusan Jamu, Semarang"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)