Cegah Hoaks, BPIP Gelar Webinar soal Implementasi Pancasila di Medsos

Inkana Putri - detikNews
Sabtu, 27 Feb 2021 13:55 WIB
Close up of a computer keyboard with word of hoax on the red button
Foto: Getty Images/iStockphoto/CreativaImages
Jakarta - Deputi Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggelar webinar bertema 'Gotong Royong Pembumian Pancasila Melalui Media' hari ini. Adapun acara tersebut dihadiri lebih dari 130 peserta.

Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Utama BPIP, Karjono menjelaskan bahwa saat ini tidak ada batasan ruang dan waktu dalam mendapatkan informasi.

"Di era milenial dan digital ini ketika informasi tidak ada batasan ruang dan waktu," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/2/2021).

Karjono menjelaskan tidak adanya batasan ruang membuat banyaknya berita hoaks bermunculan. Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat selalu menggunakan hati dan bijak dalam menggunakan media sosial.

"Tidak menutup kemungkinan ada berita hoaks oleh karena itu mari menggunakan hati dalam menggunakan media yaitu santun sopan dan bijak dalam menggunakannya," katanya.

Guna mencegah hoaks, Karjono menjelaskan seluruh pihak juga harus mendukung dan menghargai UU ITE dan Pers. Ia menegaskan pers dan semua pihak harus membuat media sosial menjadi tempat nyaman untuk mencari informasi.

"Kami mendukung dan menghargai UU ITE dan Pers karena kemerdekaan dan kebebasan pers dijamin di negara ini. Tapi bebas bukan berati bebas sepenuhnya karena masih harus berdasarkan norma, tidak membalikkan fakta, dan lainnya. Untuk itu mari membuat media nyaman," imbuhnya.

Di sisi lain, Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa Kementerian Komunikasi dan Informatika, Henri Subiakto menjelaskan bahwa di era digital ini penting untuk memahami dan menjaga Pancasila bersama-sama.

"Di era sekarang harus memahami bahwa Pancasila dan negara adalah anugerah yang harus dijaga. Kebinekaan yang sangat luar biasa bisa bersatu karena dulu founding father berjanji dan disatukan oleh semangat yang sama membangun bangsa dengan Ideologi Pancasila," jelasnya.

Henri menegaskan Indonesia merupakan wilayah yang jadi rebutan. Bahkan, tak jarang orang yang juga ingin menancapkan ideologi baru di Indonesia.

Oleh karena itu, ia mengimbau agar seluruh pihak bekerja sama menjaga bangsa Indonesia. Terlebih saat ini, kebenaran semu banyak terjadi di media sosial.

"Kebenaran semu banyak tercipta yang seakan benar karena pendukungnya banyak padahal belum tentu secara hakikat seperti itu," paparnya..

Menurutnya, pers sekarang tidak bisa dipisahkan dengan digital dan harus berada di ruang digital.

"Pers memiliki tanggung jawab menjaga nilai kebijakan, memperkuat nilai kebangsaan, dan konten yang positif bukan keranjang sampah," katanya.

Di sisi lain, Staf khusus Presiden, Ayu Kartika Dewi menegaskan bahwa fungsi media bukan hanya sekadar hiburan.

"Fungsi media itu buka sebagai hiburan saja, media adalah sekolah sepanjang masa," tegasnya.

Ayu juga menambahkan saat ini media berperan penting dalam banyak hal mulai dari menjadi mata publik hingga mengajarkan norma di masyarakat.

"Peran penting media masa adalah menjadi mata publik, menjelaskan berbagai fenomena, pendidikan mengajarkan norma, dan hiburan," katanya.

Terkait hal ini, Ayu juga menyampaikan implementasi Pancasila sangat diperlukan. Menurutnya, implementasi Pancasila yang baik adalah internalisasi terhadap diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Antonius Benny Susetyo menjelaskan saat ini di media banyak orang bertopeng yang ingin menunjukkan eksistensinya.

"Di media sekarang orang itu anonim sehingga orang bisa menggunakan topeng karena tidak berhadapan langsung dengan orangnya. Dalam topeng ini memerankan banyak peran karena ingin menunjukkan eksistensinya," jelasnya.

Soal unsur SARA, Benny menambahkan media sosial menjadi magnet kuat yang tentunya membahayakan keutuhan bangsa.

"Permasalahan SARA sangat kuat untuk menjadi magnet perbincangan di media massa dan banyak segmennya. Ini tentunya membahayakan keutuhan bangsa," paparnya.

Terkait hoax, Benny mengatakan hoaks dapat menimbulkan kepanikan dan menghancurkan kultur kemanusiaan sehingga perlu dilawan dengan konten positif.

"Hoaks menciptakan kepanikan, menghancurkan kultur kemanusiaan, dan menghilangkan harapan. Kita harus merebut ruang publik dengan konten positif. Jika ini terus menerus diisi maka perilaku positif akan terwujud," katanya..

Untuk itu, Benny berpesan peran media sosial harus mampu memajukan peradaban dan menjaga moralitas publik.

"Peran ke depan media sosial harus mampu mewujudkan untuk memajukan peradaban bukan penghancur keadaban serta menjaga moralitas publik," pungkasnya. (prf/ega)