Bedah Buku Autobiografi, Syarief Hasan Cerita Masa Kecilnya di Pelosok

Inkana Putri - detikNews
Jumat, 26 Feb 2021 16:56 WIB
Wakil Ketua MPR Syarief Hasan
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Syarief Hasan membedah buku authorized biography 'Nahkoda Menatap Laut' bersama Dosen Universitas Putra Indonesia Denny Aditya Dwiwarman di Cianjur, Jawa Barat. Ia mengatakan buku tersebut bercerita tentang perjuangan dirinya yang dulu tinggal di daerah terpelosok di Pulau Sulawesi, yakni Kota Palopo.

Pada tahun 1940-an, lanjutnya, daerah tersebut sulit dijangkau dan membutuhkan waktu sekitar 20 jam bila ditempuh melalui jalur darat. Syarief juga menyebut pada masa itu biasanya ia menempuh jalan melalui laut. Namun, transportasi laut saat itu bukan kapal penumpang melainkan kapal barang.

"Adanya kapal barang pun seminggu sekali," ujar Syarief dalam keterangannya, Jumat (26/2/2021).

Hal tersebut ia sampaikan dalam acara 'Bicara Buku Bersama Wakil Rakyat' yang digelar Perpustakaan MPR, Kamis (25/2). Acara tersebut diikuti oleh ratusan perserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa, pelajar, dan politisi.

Saat membedah buku, Menteri Koperasi dan UMKM pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang ini juga menggambarkan sulitnya akses menuju Kota Palopo. Pasalnya, saat itu teknologi masih belum berkembang, bahkan radio pun masih jadi barang mewah.

"Pada masa lalu beda dengan saat ini. Pada masa itu radio saja barang mewah apalagi televisi," katanya.

Selain terbatasnya akses jalan, dahulu Sulawesi Selatan juga menjadi tempat pemberontakan DI/TII, peristiwa pertempuran antara tentara dari Jawa (TNI) dan pasukan DI/TII. Ia bercerita adanya pertempuran membuat seluruh penduduk harus berada di rumah menjelang maghrib. Penduduk di sana juga membuat 'bunker' di bawah rumah panggung untuk berlindung bila terjadi pertempuran antara TNI dan pasukan DI/TII.

"Kami berlindung di bunker untuk menghindari peluru nyasar," tuturnya.

Menurutnya, sering terjadinya pertempuran membuat masyarakat dapat membedakan antara suara tembakan yang diluncurkan TNI atau pasukan DI/TII. Meskipun diterpa banyak kesulitan, Syarief menjelaskan hal itulah yang membuat dirinya mempunyai cita-cita tinggi agar bisa hidup lebih baik. Oleh karena itu, ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke Makassar guna menempuh pendidikan.

Berbeda dengan saat ini, Syarief bercerita untuk kuliah di luar kota ia perlu mencari saudaranya untuk menumpang hidup.

"Saat ini bila mahasiswa ingin kuliah di kota lain bisa kost," kata Syarief.

"Sebagai gantinya, anak yang menumpang hidup pada saudaranya, ia harus bisa memberi kontribusi atau membantu saudaranya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Saya pun juga demikian," imbuhnya.

Saat sekolah di Makassar, Syarief termotivasi pada dosen-dosennya yang terbilang sukses dalam kehidupan, yang dapat menempuh pendidikan di luar negeri dan memiliki mobil. Terlebih sejak SD, Syarief mengatakan ia mempunyai prinsip harus dapat menguasai sesuatu yang tidak dikuasai oleh orang lain.

"Hal-hal itulah yang memotivasi saya," katanya.

Dalam perjalanan karirnya, Syarief mengatakan dirinya memilih untuk ikut bergabung dengan Partai Demokrat. Ia mengakui di partai tersebut dirinya dibimbing dan dibina oleh SBY.

"Saya bisa beruntung dibimbing dan dibina oleh Bapak SBY," ujarnya.

"Bimbingan dan binaan dari beliau bisa membuat saya bisa menjadi menteri, anggota DPR empat kali, dan wakil ketua MPR seperti saat ini," imbuhnya.

Baginya, SBY merupakan presiden yang memiliki berbagai kemampuan.

"Ia adalah seorang jenderal, akademisi, seniman, dan juga seorang inspirator," jelasnya.

Oleh karena itu, Syarief berharap buku yang ditulisnya selama 5-6 tahun dapat menjadi bacaan bagi masyarakat luas, kenang-kenangan dan inspirasi bagi generasi milenial. Pasalnya, ia mengatakan menulis buku tersebut setelah menjalani hidup dan takdir.

"Tantangan hidup yang saya alami luar biasa dan sulit diprediksi," ucapnya.

Sementara itu, Kabiro Humas Setjen MPR Siti Fauziah yang turut hadir dalam acara tersebut mengatakan ada banyak hal yang dapat dibahas dalam buku tersebut. Ia pun mengaku buku karya Syarief dapat menjadi motivasi sekaligus inspirasi bagi masyarakat.

"Sudah banyak buku yang dibahas dalam acara itu. Alhamdulillah hari ini kita membedah buku yang berjudul 'Nakhoda Menatap Laut'," katanya.

"Dengan acara ini kita bisa mendapat motiviasi dan inspirasi," ungkapnya.

Dalam acara tersebut, Siti juga mengajak masyarakat untuk berkunjung ke Perpustakan MRP. Ia menyampaikan Perpustakaan MPR terbuka bagi dosen, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum.

Siti juga menyebut Perpustakaan MPR menyediakan berbagai buku-buku kajian MPR yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa.

"Cocok untuk studi bagi mahasiswa terutama fakultas hukum," katanya.

Terkait acara ini, Siti juga bersyukur acara tetap dapat berlangsung di tengah masa COVID-19 dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

(akn/ega)