Akademisi hingga Guru Beberkan 6 Langkah Antisipasi Risiko Learning Loss

Puti Yasmin - detikNews
Kamis, 25 Feb 2021 18:02 WIB
Puluhan murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 005 Rantebuda, Desa Tondok Bakaru, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, mengikuti proses belajar secara luring di alam terbuka. Cara ini dipilih, lantaran masih banyak murid di daerah ini, tidak memiliki fasilitas handphone, untuk menunjang proses belajar daring (dalam jaringan).
Foto: 20detik/Ilustrasi Akademisi hingga Guru Beberkan 6 Langkah Antisipasi Risiko Learning Loss
Jakarta -

Universitas Borneo Tarakan dan Lembaga Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) mengadakan diskusi guna mencegah risiko learning loss atau menurunkan kompetensi belajar siswa pada peserta didik selama pandemi COVID-19. Diskusi tersebut melibatkan para akademisi, jurnalis, kepala sekolah, hingga guru.

Diskusi yang dilaksanakan pada 11 Februari 2021 ini pun menyimpulkan bahwa ada enam hal yang bisa mencegah risiko learning loss, yakni penggunaan kurikulum darurat, asesmen siswa, pembelajaran terdiferensiasi, pelatihan, dan pendampingan guru, serta partisipasi masyarakat.

"Sebagai langkah kunci mengantisipasi kerugian lebih besar akibat learning loss. Seluruh rekomendasi ini akan kami teruskan kepada Kemdikbud, Kemenag, pemerintah daerah, LPTK, dan masyarakat," ujar Dekan FKIP UBT Dr. Suyadi, M.Ed dalam siaran pers yang diterima detikcom.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pembukaan sekolah harus diikuti dengan upaya pemulihan kemampuan belajar siswa untuk mencegah learning loss. Dengan begitu peserta didik bisa mengejar ketertinggalan selama belajar di kondisi darurat.

Adapun, cara mengejar ketertinggalan dengan meneruskan kurikulum darurat. Sebab, dengan kurikulum tersebut para siswa bisa lebih fokus meningkatkan kompetensi literasi dan numerasi.

"Kami mengusulkan kepada pemerintah pusat agar meneruskan kebijakan kurikulum darurat, paling tidak untuk tahun ajaran 2021 - 2022," sambung dia.

Selain itu, pihaknya juga merekomendasikan agar dinas pendidikan dan sekolah melakukan mitigasi learning loss. Adapun, hal itu bisa dilakukan dengan memberikan pelatihan kepada guru menggunakan kurikulum darurat hingga melaksanakan asesmen demi memperbaiki kemampuan peserta didiknya.

"Melalui pelatihan dan pendampingan, seperti ini sekolah dan guru akan mampu merancang materi belajar sesuai dengan kompetensi siswa sehingga cepat mengejar ketertinggalan," tegasnya.

Dampak Jangka Panjang Learning Loss

Dampak learning loss ni juga ditegaskan oleh Peneliti RISE (Research on Improving System of Education) Michelle Kaffenberger dari Universitas Oxford Inggris ini. Menurutnya dampak learning loss tidak akan berhenti, sekalipun sekolah dibuka, jika tidak ada kebijakan terkait pemulihan kemampuan belajar terlebih dahulu.

Berdasarkan riset, dampak learning loss secara global pada peserta didik sangat besar pada siswa yang duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan, siswa kelas 3 SD yang melewatkan waktu belajar 6 bulan berpotensi tertinggal 1,5 tahun.

Kemudian, siswa kelas 1 SD yang tidak belajar dalam waktu 6 bulan akan mengalami ketertinggalan hingga 2,2 tahun. Learning loss menurut Michelle akan berdampak panjang sehingga menyebabkan masalah ekonomi dan sosial di masa mendatang.

"Siswa yang kehilangan kesempatan belajar selama 1,5 tahun akan kehilangan pendapatan sebesar 15% saat dewasa. Sedangkan siswa yang kehilangan kesempatan belajar selama 2 tahun akan kehilangan pendapatan sebesar 20% saat dewasa" tutup dia.

Simak video 'Jokowi Targetkan Belajar Tatap Muka Bisa Dilakukan Pada Juli':

[Gambas:Video 20detik]



(pay/erd)