SBY Dinilai Terusik, Ultimatum Pelaku Kudeta Partai Demokrat

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Kamis, 25 Feb 2021 12:08 WIB
SBY (Foto: Isal/detikcom)
SBY (Isal/detikcom)
Jakarta -

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat (PD) angkat bicara terkait isu kudeta atau kongres luar biasa (KLB) PD. Sikap SBY pun dinilai ingin memberikan pesan tertentu kepada publik. Apa itu?

Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi Prayitno menilai sikap SBY yang blak-blakan memberi pernyataan keras terhadap isu kudeta PD memiliki pesan khusus. Salah satunya, SBY dinilai ingin memberikan penegasan bahwa Partai Demokrat merupakan personifikasi dari dirinya.

"Pertama, SBY ingin memberikan pesan kepada publik bahwa Demokrat itu adalah SBY. Demokrat itu adalah personifikasi SBY saat ini. Jadi siapa pun yang mencoba melakukan kudeta atau KLB, akan berhadapan langsung dengan SBY," kata Adi saat dihubungi, Kamis (25/2/2021).

Adi menilai SBY sangat jarang memberikan pernyataan secara vulgar dan terbuka kepada publik. Menurut dia, saat ini SBY sudah berada di fase klimaks terhadap isu kudeta PD.

"Jarang-jarang loh SBY terbuka dan vulgar bilang yang mencoba untuk, not for sale dan siapa pun yang mencoba mengambil alih Demokrat akan dia lawan. Kan itu jarang sekali. Artinya, Pak SBY ini sudah pada titik klimaks, itu bahwa gerakan-gerakan isu KLB dan kudeta itu telah mengusik SBY secara tidak langsung makanya video yang dikeluarkan itu bentuknya, satu, ingin menunjukkan kepada publik bahwa Demokrat itu adalah personifikasi Pak SBY," ujarnya.

SBY, kata Adi, juga dinilai sedang memberikan ultimatum terhadap pihak eksternal, termasuk para mantan kader PD. Adi menilai SBY sedang memberi pesan agar pihak eksternal partai tidak mengganggu PD dengan isu kudeta.

"Itu ultimatum sebenarnya. Itu ultimatum kepada pihak-pihak eksternal ataupun mantan-mantan orang yang dulu pernah ada di Demokrat, jangan pernah coba-coba menggulirkan isu-isu yang membuat PD ini terganggu, apalagi mereka bukan siapa-siapa saat ini, hanya sebatas outsider, jangan mengganggu gitu ya sehingga orang-orang Demokrat ini ya pasang badan sampai titik darah penghabisan," ujarnya.

Selain itu, pernyataan SBY dianggap sebagai bentuk ultimatum terhadap para kader internal PD. Hal ini, kata Adi, dimaksudkan agar para kader PD tidak genit untuk terlibat dalam isu kudeta atau KLB.

"Ini bentuk ultimatum juga kepada pengurus-pengurus Demokrat, entah itu di level daerah dan di level pusat, jangan coba genit dan tertarik dengan isu KLB ataupun isu kudeta karena akan diberi sanksi disiplin, seperti pemecatan yang sudah dilakukan kepada orang-orang yang dianggap punya potensi membelah itu," tuturnya.

Dihubungi secara terpisah, pendiri lembaga survei KedaiKOPI Hendri Satrio (Hensat) menilai sikap SBY yang turun gunung memberikan pernyataan terkait isu kudeta dinilai sebagai hal wajar. Terlebih, menurut Hensat, gerakan KLB PD tidak surut usai Ketum PD AHY memberikan sikap.

"Jadi pada saat AHY muncul tidak ada, bukan, gerakan untuk KLB tidak surut juga gitu. Jadi SBY merasa harus turun gunung untuk membela partainya gitu. Seperti itu dan itu sangat wajar. Di partai-partai lain pun begitu. Kalau partainya diserang, pasti banyak tokoh yang akan membela ketumnya juga. Jadi semata-mata itu sih. Nggak ada yang aneh. Karena kebetulan SBY bapaknya AHY aja," ucapnya.

"Tapi kalau terjadi di partai lain, kalau ketumnya diserang, pasti tokoh-tokoh senior akan turun gunung membela itu," ujarnya.

Simak langkah SBY turun gunung bicara isu kudeta di halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2