Islam dan Barat Tidak Perlu Dipertentangkan
Selasa, 21 Feb 2006 17:37 WIB
Solo - Kerjasama yang ideal dan harmonis antara Islam dan Barat adalah kunci terjadinya kemajuan peradaban dunia. Kunci terwujudnya kerjasama itu adalah kesetaraan semua pihak di muka bumi. Sedangkan pertentangan antarkeduanya akan berakibatkan kehancuran semua.Demikian disampaikan oleh Amien Rais saat tampil sebagai keynote speaker dalam seminar internasional bertema 'Islam and The West: Cooperation or Confrontation' di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Selasa (21/2/2006)."Jika pertanyaannya kerjasama atau konfrontasi maka saya yakin semua pihak di dalamnya akan memilih kerjasama. Sebab jika terjadi konfrontasi, sekelebatan Barat akan terlihat menang karena memiliki persenjataan, strategi dan basis ekonomi yang lebih kuat. Namun selanjutnya keduanya akan runtuh," ujar Amien.Kunci terjadinya kerjasama itu adalah kesetaraan di antara keduanya. Amerika Serikat (AS) misalnya, harus mengurangi kepongahannya seolah-olah sebagai polisi dunia yang mampu mengatur negara manapun. Padahal saat ini AS telah memberikan contoh buruk pelaksanaan demokrasi."Penjajahan AS terhadap Irak, dukungannya Israel, diskriminasi terhadap warga kulit hitam dalam penanganan korban badai Katrina dan lain-lain adalah contoh sangat buruk yang dilakukan AS dalam pelaksanaan demokrasi," papar Amien.Bruce Lawrence, guru besar ahli Indonesia dari Universitas Duke AS, yang tampil dalam seminar itu juga mengatakan, bersatunya peradaban muslim dan peradaban Barat adalah sebuah keniscayaan. Sedangkan kelompok radikal jangan terlalu dipersoalkan karena selalu ada di setiap penganut agama manapun dalam jumlah yang selalu sangat kecil."Bukan lagi terdapat peradaban Islam dan Barat, melainkan muslim adalah bagian dari Barat dan Barat adalah bagian dari muslim, keduanya tidak dapat dipisahkan," paparnya.Saat tampil sebagai pembicara seminar, Dubes Palestina untuk Indonesia, Ribbi Awad, juga mengkhawatirkan terjadinya perdamaian di Timur Tengah pasca-kemenangan Kelompok Hamas yang selalu menempuh garis keras atas Kelompok moderat Fattah dalam Pemilu di Palestina.Kekalahan Fattah, kata dia, karena akumulasi persoalan yang dibebankan kepada partai tersebut dan menjadi buah manis yang secara langsung dapat dipetik Hamas.Persoalan yang ditimpakan kepada Fattah adalah dampak pemerintahan diktator yang diterapkan almarhum Yasser Arafat di masa lalu. Persoalan lainnya adalahtindakan-tindakan Israel menyerang warga dan lahan-lahan milik warga Palestina."Kemenangan Hamas bisa menjadi tsunami politik bagi kami. Namun akan manjadi hal yang tidak mengkhawatirkan jika nantinya akan ditempuh akomodasi politik," paparnya.Pembicara lain, Kapolda Jawa Tengah Irjen (Pol) Dody Sumantyawan mengatakan, penanggulangan kejahatan terorisme akan gagal jika dilakukan dengan menempatkan umat Islam dengan stigmatisasi dan penyudutan terus-menerus melalui penggambaran labelisasi sebagai teroris."Masalah ini harus diselesaikan bersama-sama antara dunia Barat dan umat Islam, sebab jika tidak, maka produk hukum apa pun, bahkan teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu membendung terorisme," ujar Dody.
(nrl/)











































