MUI: Perlu Kode Etik Internasional Sikapi Kartun Nabi
Sabtu, 18 Feb 2006 19:18 WIB
Jakarta - Karikatur Nabi Muhammad telah memicu kemarahan umat Islam dunia. Untuk menghindari kejadian serupa, diperlukan kode etik internasional."Ada solusi agar kejadian ini tidak terjadi lagi. Mungkin harus ada kode etik setingkat internasional yang nanti akan melarang hal-hal semacam itu," kata Ketua MUI Amidhan.Hal ini disampaikan dia dalam jumpa pers di Kantor MUI, Kompleks Masjid Istiqlal, Jl Taman Wijayakusuma, Jakarta, Sabtu (18/2/2006).Selain itu, lanjut dia, diperlukan juga intermedia dialog. Pasalnya media yang memuat karikatur nabi, koran Denmark Jyllands-Posten, beralasan tidak mengetahui agama Islam."Tapi saya kira tidak mungkin alasan itu, wong gambarnya saja ke arah penghinaan. Agar ke depannya lebih baik, ya ada kode etik internasional," ujar Amidhan."Itu tuh pelecehan terhadap simbol yang sakral untuk umat Islam, baik sengaja atau tidak sengaja, itu adalah penghinaan, karena itu harus diusut," lanjutnya.ProporsionalHal senada disampaikan Ketua MUI Ma'ruf Amin. Karikatur nabi itu merupakan bentuk provokasi dan penghinaan terhadap agama, khususnya Islam."Namun kita meminta masyarakat untuk bertindak secara proporsional. Jangan sampai terjebak kepada provokasi serta tindakan anarkis," imbaunya.MUI juga meminta kepada Denmark untuk melakukan proses hukum terhadap media-medianya yang sudah menyebarkan karikatur nabi tersebut.Sementara untuk di Indonesia, MUI akan mendorong kepada aparat agar memberikan proses hukum kepada media yang ikut menyebarkan karikatur tersebut.Adakah aturan normatif atau ayat Alquran yang menyebutkan wajah Nabi Muhammad tidak diperbolehkan untuk digambar? tanya wartawan."Secara jelas sih tidak. Tapi ini sudah kesepakatan para ulama bahwa tidak boleh. Karena ada ayat yang mengatakan: kamu jangan memanggil nabi seperti kamu memanggil manusia yang lain. Meskipun dia adalah manusia, nabi itu punya sifat-sifat khusus," jelas Ma'ruf."Jadi alasan kenapa ulama tidak membolehkan itu, karena penggambaran wajah ataupun diri nabi dapat mengurangi kesempurnaan nabi. Tidak seperti apa yang digambarkan, apalagi jika karikatur-karikatur itu disertai gambar lain, seperti bom dan pedang," tandasnya.
(sss/)











































