Agar Indonesia Tak Sial, Gus Dur Ruwatan di Yogyakarta
Kamis, 16 Feb 2006 17:39 WIB
Yogyakarta -
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memang benar-benar penggemar wayang kulit. Terutama bila yang mendalang adalah dalang sepuh asal Bantul, Ki Timbul Cermo Manggala. Di Alun-alun Selatan Kraton Yogyakarta, Kamis (16/2/2006), Gus Dur menggelar acara Ruwatan Bumi Nusantara dengan dalang favoritnya itu.Ruwatan yang bertujuan agar bumi Nusantara itu selamat dari berbagai bencana dan kesialan yang terus melanda selama ini. Gus Dur menggelar lakon ruwatan Murwakala. Sedangkan pada malam harinya menggelar lakon Rahwana Gugur.Gus Dur yang datang didampingi istrinya, Sinta Nuriyah, duduk di kursi depan dan menyimak lakon tersebut hingga selesai. Pertunjukan selama hampir 4,5 jam itu Gus Dur hanya sekali untuk pergi ke kamar mandi. Adegan demi adegan terus dipehatikan Gus Dur. Terutama ketika Murwakala mulai mengamuk saat hendak memakan semua manusia sebelum datangnya dalang Kandha Buwana yang akan menyelamatkan manusia dari kesialan.Sebelum pertunjukkan dimulai, Gus Dur menyerahkan tanah dalam kendi yang diambil dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Tanah itu kemudian diserahkan kepada dalang Ki Timbul Cerma Manggala. Setelah itu, Ki Timbul menerima beberapa sesaji berupa tumpeng lengkap, pisang sanggan, aneka hewan unggas dan sebuah cemeti dan sapu lidi. Aneka sesaji itu kemudian ditempatkan di sebelah kanan dalang saat memainkan wayangnya. Begitu asyiknya menonton wayang, Gus Dur enggan meladeni pertanyaan wartawan. "Saya ke sini mau nonton wayang. Saya senang kalau yang ndalang Ki Timbul. Dia itu dalang sepuh yang sangat piawai mendalang," jawab Gus Dur singkat.Ketua Panitia RH Agus Wiyarto menambahkan, Gus Dur sendiri yang sengaja memilih tempat pertunjukan di Alun-alun Kidul ini. Tanah yang diberikan Gus Dur kepada dalang itu secara simbolis adalah tanah yang berasal dari seluruh pelosok Nusantara yang dikumpulkan menjadi satu. Tujuannya agar dikumpulkan menjadi satu sehingga tidak terkelompok-kelompok dalam politik mana pun."Ruwatan ini bertujuan agar bumi Nusantara ini selamat atau menghilangkan dari sukerta atau sial. Setelah ini beberapa sesaji akan dilabuh ke pantai selatan. Sedangkan tanah itu akan disimpan di Jakarta, tapi saya tak tahu aka disimpan di mana," kata Agus.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































