Kebakaran Lahan Gambut Belum Padam, Kualitas Udara di Sumbar Menurun

Jeka Kampai - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 15:21 WIB
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Unit Observasi Global Atmosopheric Watch (GAW) Kototabang, Wan Dayantolis (Foto: Istimewa)
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Unit Observasi Global Atmosopheric Watch (GAW) Kototabang, Wan Dayantolis (Foto: Istimewa)
Padang -

Kebakaran lahan gambut berisi kelapa sawit di Agam, Sumatera Barat (Sumbar), sudah berlangsung lebih dari 10 hari dan belum tertangani dengan baik. Kondisi ini menyebabkan memburuknya kualitas udara.

"Sejak sebulan terakhir sudah terpantau sejumlah hotspot di wilayah Sumbar dan provinsi di sekitar Sumbar. Ini akibat rendahnya curah hujan yang terjadi di wilayah Sumbar, Riau atau Sumatera Selatan," kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Unit Observasi Global Atmosopheric Watch (GAW) Kototabang, Wan Dayantolis, kepada wartawan, Selasa (23/2/2021).

Menurut dia, selain curah hujan, pola angin ikut mempengaruhi kualitas udara. "Adapun pola angin pada Februari ini memang bertiup dari utara hingga timur laut, sehingga jika terjadi kebakaran hutan di Riau, maka dampaknya akan masuk wilayah Sumbar."

Ia menyebut, sesuai dengan perkiraan BMKG, curah hujan pada Maret juga cukup rendah. Jadi, kata Wan, masih akan terjadi penurunan kualitas udara.

"Ini menunjukkan indikasi mulai terjadinya penurunan kualitas udara. Potensi curah hujan, sesuai dengan perkiraan BMG memang cukup rendah. hal ini mungkin meningkatkan peluang makin berkurangnya kualitas udara," kata dia.

Berdasarkan hasil simulasi model CAMS ECMWF pada 18 hingga 20 Februari 2021, potensi penyebaran polutan udara berupa PM2.5 dari arah utara timur laut mendekati wilayah Sumatera Barat.

Kabupaten dan Kota yang berpotensi mengalami kenaikan konsentrasi PM2.5 antara lain Pasaman, Pasaman Barat, Lima Puluh Kota, Agam, Payakumbuh, Sijunjung, Sawahlunto, Solok Selatan, dan Dharmasraya. Besaran konsentrasi PM2.5 masih berada di kisaran 5-12 μg/m3 sehingga masih berada pada kondisi kualitas udara baik.

"Adapun potensi hujan berdasarkan rilis BMKG masih berpeluang terjadi sebagian besar wilayah Sumatera Barat. Hal ini tentunya dapat membantu 'mencuci' udara karena hujan akan membawa turun polutan yang ada di atmosfer. Kita imbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktifitas yang dapat menyebabkan kejadian karhutla, dan memperhatikan informasi mengenai kondisi kualitas udara dari Dinas LHK Provinsi atau Kabupaten dan Kota Sumatera Barat serta BMKG," tuturnya.

Kebakaran lahan gambut yang dihuni sawit di Sumbar memang semakin luas. Hingga hari ini, BPBD setempat mencatat total lahan yang terbakar mencapai 25 hektare lebih. Kobaran api dinilai sulit dijinakkan, karena kondisi cuaca ekstrem dan panas terik.

"Masih terjadi. Lahan yang terbakar juga berpindah-pindah," kata Kepala Badan Pelaksana BPBD Agam, Muhammad Lufti kepada wartawan.

Menurut Lufti, lahan gambut yang terbakar tersebut berada di Jorong Aia Maruok, Nagari Persiapan Durian Kapeh Darusalam, Kecamatan Tanjung Mutiara. Kebakaran sudah terjadi sejak 10 hari lalu.

"Proses pemadaman sudah dilakukan sejak 13 Februari silam dan masih belum bisa ditangani, karena lokasinya yang berpindah-pindah. Catatan kita, ada empat lokasi yang terbakar," kata dia.

(mae/mae)