Polisi Ungkap Kendala Penyelidikan Kapal Meledak di Dermaga Samarinda

Suriyatman - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 10:55 WIB
Kapal bermuatan BBM meledak di sebuah dermaga di Samarinda (dok Istimewa)
Kapal bermuatan BBM meledak di sebuah dermaga di Samarinda. (dok. Istimewa)
Samarinda -

Kepolisian belum dapat menyelidiki soal terbakar dan meledaknya tongkang di dermaga Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Penyelidikan terhambat karena tongkang tersebut tenggelam di Sungai Mahakam dan belum bisa diangkat ke permukaan.

"Masih belum bisa diangkat, kondisi tongkang itu pecah di bagian dalam, itu sudah diperiksa sama penyelam tradisional, ini kita masih cari cara mengangkatnya," kata Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Yuliansyah saat dihubungi, Selasa (23/2/2021).

Dia mengatakan tim penyidik dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri Cabang Surabaya sudah datang ke Samarinda. Dia mengatakan, meski tongkang belum diangkat ke permukaan, penyelidikan tidak dihentikan.

"Belum dihentikan, kita masih pikirkan cara naikkan bangkai kapal tersebut," katanya.

Kapal tongkang yang terbakar dan meledak di dermaga Samarinda tenggelam di Sungai Mahakam. Tim Inafis Polresta Samarinda memasang garis polisi di lokasi (Suriyatman/detikcom)Kapal tongkang yang terbakar dan meledak di dermaga Samarinda tenggelam di Sungai Mahakam. (Suriyatman/detikcom)

Polisi mendalami soal penyebab terbakar dan meledaknya tongkang tersebut berdasarkan keterangan saksi-saksi. Dugaan sementara, kemunculan api dipicu korsleting listrik.

"Kalau dugaan penyebabnya, masih keterangan dari saksi-saksi, karena korsleting listrik saat melakukan pengelasan. Kalau mencari penyebab pastinya nanti setelah kapal berhasil diangkat," katanya.

Beredar kabar Polresta Samarinda mendapat surat dari pihak keluarga korban yang meminta perkara tidak dilanjutkan. Yuliansyah mengatakan berdasarkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit, sebuah perkara dapat diselesaikan lewat keadilan restoratif (restorative justice). Namun dia mengatakan kasus ini belum naik ke tingkat penyidikan.

"Ya, takutnya kesepakatan yang mereka buat ini bisa bubar, kan kasihan korbannya. Nah, untuk RJ ini ya supaya berkeadilan. Yang jelas ini kembali kepada kebijakan dari Kapolresta, artinya polisi ini tidak semata-mata hanya pidana, tetapi juga proses berkeadilan bagi semua pihak," tuturnya.

Sebelumnya, ponton pengangkut BBM Oil Bas Gemilang Perkasa Energi meledak dan terbakar di area Galangan PT Barokah Galangan Perkasa pada Kamis (11/2) lalu. Kebakaran ini juga menyebabkan satu ponton lainya yang berada di sebelahnya juga habis terbakar.

Kapal tongkang yang terbakar dan meledak di dermaga Samarinda tenggelam di Sungai Mahakam. Tim Inafis Polresta Samarinda memasang garis polisi di lokasi (Suriyatman/detikcom) Tim Inafis Polresta Samarinda memasang garis polisi di lokasi. (Suriyatman/detikcom)

Kejadian ini menyebabkan 3 pekerja yang melakukan pekerjaan di atas ponton meninggal dunia. Ketiganya diduga terlempar saat ledakan dan ditemukan tewas di Sungai Mahakam sehari kemudian.

Ponton pengangkut BBM itu meledak di area galangan PT Barokah Galangan Perkasa. Pengacara PT Barokah Galangan Perkasa, Agus Amri, mengatakan ada kesalahan yang dilakukan pihak kontraktor dalam mengerjakan perbaikan ponton pengangkut BBM tersebut.

"Ada kesalahan prosedur dalam pengerjaan ponton tersebut hingga mengakibatkan ledakan dan mengakibatkan 3 orang pekerja tewas di lokasi kejadian," kata Agus Amri di Samarinda, Senin (15/2).

"Ketiganya bukan pekerja kami, mereka adalah vendor yang dipilih untuk mengerjakan perbaikan-perbaikan kecil di ponton pengangkut BBM Oil Bas Gemilang Perkasa Energi," jelasnya.

Dia mengatakan perbaikan ponton itu dilakukan pihak vendor yang ditunjuk sehingga proses pengerjaan menjadi tanggung jawab vendor. Dia mengatakan pihak perusahaan akan memberi santunan dan jaminan kepada anak-anak korban yang tewas meskipun bukan karyawan PT Barokah Perkasa Group.

"Secara etis saya tidak akan menyebutkan nilainya berapa, kami memberikan santunan kepada keluarga yang ditinggalkan dan jaminan kepada anak-anak almarhum untuk menempuh pendidikan sampai jenjang universitas," kata Agus.

(jbr/jbr)