Kejati NTB: 4 IRT Lempar Batu ke Pabrik Rokok Sengaja Bawa Anak ke Rutan

Tim detikcom - detikNews
Senin, 22 Feb 2021 10:27 WIB
Ilustrasi Penjara
Ilustrasi (Thinkstock)

Selain itu, Dedi menjelaskan, berkas para terdakwa dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Praya pada Rabu (17/2/2021). Pada hari yang sama, dikeluarkan Penetapan Hakim PN. Praya Nomor 37 /Pid.B/2021/PN. Praya tertanggal 17 Februari 2021.

"Dari hakim Pengadilan Negeri Praya yang menetapkan penahanan rutan terhadap para terdakwa selama paling lama 30 (tiga puluh hari) sejak tanggal 17 Februari 2021 sampai dengan tanggal 18 Maret 2021 dan jaksa penuntut umum langsung melaksanakan penetapan tersebut pada hari dan tanggal yang sama dengan penetapan penahan hakim tersebut," ujarnya.

Lalu, pada Kamis (18/2/2021), sekitar pukul 08.00 Wita, para terdakwa dipindahkan oleh JPU ke Rutan Praya dengan melakukan proses rapid test. Hasil tes para terdakwa negatif COVID-19 dan diterima oleh Rutan Praya.

"Bahwa perkara para terdakwa akan disidangkan pada hari Rabu, tanggal 24 Februari 2021, sesuai dengan penetapan hakim Nomor 37 /Pid.B/2021/PN. Praya tertanggal 17 Februari 2021.

"Bahwa persoalan kenapa ditahan kami sudah jelaskan dengan pertimbangan di atas dan terhadap para terdakwa sebagaimana KUHAP masih mempunyai hak untuk dilakukan penangguhan penahanan pada tahap selanjutnya, yaitu tahap persidangan, yaitu dengan mengajukan permohonan penangguhan penahanan pada hakim karena pada saat ini status penahanan hakim dan hakimlah yang berwenang menentukan apakah bisa ditangguhkan atau tidak," tuturnya.

Sebelumnya, 4 orang wanita ditahan di Lapas Praya, Lombok Tengah, NTB, setelah melempari sebuah pabrik rokok dengan batu. Wanita-wanita itu ditahan bersama anak-anaknya.

"Tersangka H, NH, M, dan F yang ditahan di Lapas Praya beserta dua anaknya yang masih (membutuhkan) ASI karena disangka secara bersama-sama melakukan perusakan berupa pelemparan (batu) yang mengakibatkan spandek (pabrik rokok) peok," ujar pengacara Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Fakultas Hukum Universitas Mataram, Yan Mangandar Putra, dalam keterangannya, Sabtu (20/2/2021).

Insiden pelemparan itu terjadi di sebuah pabrik rokok di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, pada 26 Desember 2020, pukul 16.00 Wita. Akibat aksi pelemparan batu itu, pabrik rokok tersebut menderita kerugian Rp 4,5 juta.

"Sebagaimana diatur Pasal 170 ayat (1) KUHP, ancaman hukum penjara 5 tahun 6 bulan," kata Yan.

Yan menambahkan, pabrik rokok tersebut telah beroperasi belasan tahun. Kegiatan operasional pabrik tersebut dinilai mengganggu kesehatan warga karena menimbulkan bau.

"Aktivitas di desa tersebut dan tiap produksi mengeluarkan bau menyengat yang dapat mengganggu kesehatan. Warga sudah sering menyampaikan keberatan, tapi tidak pernah digubris," jelas Yan.

"Rekan-rekan advokat di Lombok Tengah dan BKBH telah membentuk tim pembela untuk memberikan pendampingan hukum selama persidangan kepada para tersangka," lanjutnya.

Halaman

(idh/nvl)