Lempar Batu ke Pabrik Rokok di NTB, 4 Wanita dan Anaknya Ditahan

Isal Mawardi - detikNews
Sabtu, 20 Feb 2021 21:35 WIB
Ilustrasi Penjara
Ilustrasi (Foto: dok. Thinkstock)
Lombok Tengah -

Empat orang wanita ditahan di Lapas Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), setelah melempari sebuah pabrik rokok dengan batu. Wanita-wanita itu ditahan bersama anak-anaknya.

"Tersangka H, NH, M, dan F yang ditahan di Lapas Praya beserta dua anaknya yang masih (membutuhkan) ASI karena disangka secara bersama-sama melakukan perusakan berupa pelemparan (batu) yang mengakibatkan spandek (pabrik rokok) peok," ujar pengacara Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Fakultas Hukum Universitas Mataram, Yan Mangandar Putra, dalam keterangannya, Sabtu (20/2/2021).

Insiden pelemparan itu terjadi di sebuah pabrik rokok di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, pada 26 Desember 2020 pukul 16.00 Wita. Atas aksi pelemparan batu itu, pabrik rokok tersebut menderita kerugian Rp 4,5 juta.

"Sebagaimana diatur Pasal 170 ayat (1) KUHP ancaman hukum penjara 5 tahun 6 bulan," kata Yan.

Pengacara Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Fakultas Hukum Universitas Mataram, Yan Mangandar Putra (Dok istimewa/ foto diberikan oleh narasumber bernama Yan)Pengacara Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Fakultas Hukum Universitas Mataram, Yan Mangandar Putra (Dok istimewa/ foto diberikan oleh narasumber bernama Yan)

Menurut Yan, kasus ini cukup cepat prosesnya. Surat perintah penyidikan per 18 Januari 2021. Lalu pelimpahan barang bukti dan tersangka per 16 Februari 2021.

"Dimulai penahanan oleh jaksa di Lapas Praya dan pelimpahan ke Pengadilan Negeri Praya dengan register nomor 37/Pid.B/2021/PN PYA tanggal 17 Februari 2021 dan dijadwalkan sidang pertama pada 24 Februari 2021," tuturnya.

Yan menambahkan pabrik rokok tersebut telah beroperasi belasan tahun. Kegiatan operasional pabrik tersebut dinilai mengganggu kesehatan warga karena menimbulkan bau.

"Aktivitas di desa tersebut dan tiap produksi mengeluarkan bau menyengat yang dapat mengganggu kesehatan. Warga sudah sering menyampaikan keberatan tapi tidak pernah digubris," jelas Yan.

"Rekan-rekan advokat di Lombok Tengah dan BKBH telah membentuk tim pembela untuk memberikan pendampingan hukum selama persidangan kepada para tersangka," lanjutnya.

(isa/jbr)