Kejati NTB: 4 IRT Lempar Batu ke Pabrik Rokok Sengaja Bawa Anak ke Rutan

Tim detikcom - detikNews
Senin, 22 Feb 2021 10:27 WIB
Ilustrasi Penjara
Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta -

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Barat (NTB) menepis kabar telah menahan 4 ibu rumah tangga (IRT) bersama anak-anaknya terkait kasus pelemparan batu ke pabrik rokok di Lombok Tengah. Kejati NTB mengatakan 4 IRT itu yang sengaja membawa anak-anaknya.

"Bahwa terkait pemberitaan dan foto yang beredar di medsos bahwa para terdakwa ditahan bersama anaknya oleh pihak Kejaksaan adalah tidak benar, melainkan keluarga para terdakwa dengan sengaja membawa anak para terdakwa di Polsek Praya Tengah maupun di Rutan Praya untuk ikut bersama para terdakwa berdasarkan izin pihak Rutan," kata Kasipenkum Kejati NTB Dedi Irawan dalam keterangannya, Senin (22/2/2021).

Dedi menjelaskan alur pelimpahan kasus ini ke Kejaksaan. Kasus Hultiah cs dilimpahkan tahap dua di kantor Kejaksaan Negeri Lombok Tengah pada Selasa (16/2/2021) sekitar pukul 10.00 wita. Keempatnya disangka melanggar Pasal 170 ayat 1 KUHP.

"Penyidik Polres Lombok Tengah menghadapkan tersangka dan barang bukti disertai dengan surat kesehatan yang menyatakan bahwa para terdakwa dalam keadaan sehat serta para tersangka setelah dilakukan pemeriksaan tahap dua oleh jaksa penuntut umum berbelit belit dan tidak kooperatif dan sempat diberikan kesempatan untuk berdamai melalui upaya restorative justice namun keempat tersangka tetap menolak," ujarnya.

Dedi mengatakan keempat IRT itu sempat memberikan pernyataan. Mereka disebut akan membawa massa 100-200 orang ke Kejari Loteng jika kasus tersebut berlanjut.

"Meski ada sedikit tekanan dari dari keempat IRT itu, jaksa tetap memproses berkas hasil penyidikan dari polisi. Jaksa yang bertugas tetap menjalankan tugas dengan baik," ucapnya.

Saat pelimpahan tersangka dan barang bukti atau tahap dua, Dedi mengatakan tidak ada satu pun pihak keluarga keempat IRT tersebut datang sehingga tidak ada orang yang menjadi penjamin dalam penangguhan penahanannya.

"Karena dianggap berbelit-belit, tidak ada penjamin, serta mengintervensi jaksa saat ditanya, sehingga jaksa menahannya," ujarnya.

"Bahwa pada saat tersangka dihadapkan oleh penyidik para tersangka tersebut tidak ada didampingi oleh pihak keluarga maupun penasehat hukum dan tidak pernah ada membawa anak-anak di ruangan penerimaan tahap 2 Kejaksaan Negeri Lombok Tengah," imbuhnya.

Dedi menjelaskan, Pasal 170 KUHP yang disangkakan kepada para IRT tersebut merupakan pasal yang bisa membuat mereka ditahan. Dia mengatakan para tersangka telah diberi hak-haknya oleh jaksa penuntut umum agar menghubungi pihak keluarga untuk mengajukan permohonan tidak dilakukan penahanan dan sebagai penjamin sebagaimana SOP.

"Namun, sampai dengan berakhirnya jam kerja, yaitu jam 16.00 Wita, pihak keluarga para tersangka tidak juga datang ke kantor Kejaksaan Negeri Lombok Tengah serta telah diberikan pula hak untuk dilakukan perdamaian namun ditolak serta berbelit-belit selama pemeriksaan tahap dua sehingga JPU harus segera mengambil sikap dan oleh karena pasal yang disangkakan memenuhi syarat subjektif dan objektif berdasarkan pertimbangan tersebut di atas maka para tersangka ditahan oleh jaksa penuntut umum di Polsek Praya Tengah," paparnya.

Lihat juga video 'Penampakan Gili Tangkong NTB Dijual di Situs Online':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.