Kenapa Curah Hujan Ekstrem Terjadi di Jabodetabek? Ini Analisis BMKG

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 20 Feb 2021 13:26 WIB
BMKG menyatakan wilayah Indonesia saat ini memasuki masa pancaroba. Awan gelap pun tampak menyelimuti langit Kota Jakarta hari ini.
Ilustrasi cuaca ekstrem (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab wilayah Jabodetabek diguyur hujan dengan intensitas lebat sampai ekstrem sehingga memicu terjadinya banjir di banyak titik. BMKG menyebutkan sejumlah faktor pemicu hujan ekstrem.

"Pertama, pada 18-19 Februari 2021 termonitor ada aktivitas seruakan udara dari Asia yang cukup signifikan mengakibatkan peningkatan awan hujan di Indonesia bagian barat," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam jumpa pers daring yang disiarkan YouTube BMKG, Sabtu (20/2/2021).

Dwikorita mengatakan ada aktivitas gangguan atmosfer di zona ekuator yang sering disebut aktivitas Rossby Equatorial. Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan terjadinya pelambatan dan pertemuan angin.

BMKG membeberkan kondisi pemicu terjadinya cuaca ekstrem di Jabodetabek (dok YouTube BMKG)BMKG membeberkan kondisi pemicu terjadinya cuaca ekstrem di Jabodetabek (dok YouTube BMKG)

Dia mengatakan, akibat pertemuan, angin Samudra Hindia menjadi melambat. Angin dari Asia (utara) yang menuju ke selatan terhalang angin dari barat sehingga membelok ke timur.

"Ada pembelokan dari arah utara ini kebetulan membeloknya di Jabodetabek. Saat membelok, melambat, di situlah terjadi peningkatan intensitas pembentukan awan hujan yang akhirnya terkondensasi turun sebagai hujan dengan intensitas tinggi," kata dia.

Dia menjelaskan faktor ketiga pemicu curah hujan ekstrem ialah akibat tingkat labilitas dan kebasahan udara di Jawa bagian barat yang cukup tinggi. Hal ini mengakibatkan peningkatan potensi awan-awan hujan di wilayah Jabodetabek.

BMKG membeberkan kondisi pemicu terjadinya cuaca ekstrem di Jabodetabek (dok YouTube BMKG)BMKG membeberkan kondisi pemicu terjadinya cuaca ekstrem di Jabodetabek (dok YouTube BMKG)

"Tingkat labilitas dan kebasahan udara juga berpengaruh dalam peningkatan curah hujan," katanya.

Faktor terakhir, dia mengatakan ada daerah pusat tekanan rendah di Australia bagian utara yang membentuk pola konvergensi di sebagian Pulau Jawa. Dia menambahkan fenomena ini menambah curah hujan di daerah Jabodetabek menjadi tinggi.

Jadi fenomena yang ada di Pulau Jawa ini, tadi ada pertemuan-pertemuan angin itu ternyata juga dipengaruhi oleh terbentuknya daerah pusat tekanan rendah di Australia bagian utara yang membentuk pola konvergensi di sebagian Pulau Jawa dan berkontribusi dalam pertumbuhan awan hujan di Jawa bagian barat termasuk Jabodetabek," ucapnya.

BMKG membeberkan kondisi pemicu terjadinya cuaca ekstrem di Jabodetabek (dok YouTube BMKG)Daftar puncak musim hujan daerah di Indonesia (dok YouTube BMKG)

Dwikorita menambahkan, saat ini wilayah di Pulau Jawa masih memasuki periode puncak musim hujan. Hujan dengan intensitas sedang-lebat masih terjadi di puncak periode musim hujan ini, yang diperkirakan masih akan berlangsung sampai akhir Februari dan awal Maret.

"(Namun) untuk periode sepekan ke depan wilayah Jabodetabek berpotensi hujan ringan-sedang," tuturnya.

Simak juga Video: BMKG Sebut Intensitas Hujan di Jakarta Tidak Setinggi Tahun Lalu

[Gambas:Video 20detik]



(jbr/hri)