Round-Up

Wanti-wanti MUI Saat Sumpah Mubahalah Lekat dengan Konflik Politik

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 20 Feb 2021 05:50 WIB
Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta
Majelis Ulama Indonesia (Foto: Ari Saputra)

Noor Achmad mengingatkan bahwa sumpah mubahalah bukan hanya jangan mudah diucapkan oleh sesama muslim. Mubahalah, kata Noor Achmad, adalah puncak dari perselisihan.

"Sehingga jangan sampai itu mudah dilakukan oleh sesama muslim, bahkan sesama umat manusia, karena kalau sudah demikian orang minta kutukan kepada Allah, orang minta laknat kepada Allah, katakanlah 'Kalau pendapat saya ini, kalau saya melakukan ini, maka saya dikutuk oleh Allah', katakan saja seperti itu, demikian pun sebaliknya kalau yang saya tuduhkan kepada kamu itu salah, maka saya dikutuk oleh Allah, itu sesuatu yang sebenernya puncak dari sebuah perselisihan," ujarnya.

"Jadi sumpah semacam itu jangan mudah untuk diucapkan, masih ada proses-proses lainnya, itu sumpah yang sangat berbahaya sebenernya itu, mubahalah itu," sambungnya.

Sejarah mubahalah pun diceritakan oleh Noor Achamad. Dia mengaku kerap mendengar sumpah itu di masyarakat, sehingga terkesan mudah mengucapkan mubahalah. Padahal, mubahalah tak patut dipermainkan.

"Artinya, antar agama saja nggak berani mengungkapkan sebuah sumpah kutukan apalagi ini antarumat Islam yang memang sering terjadi, kami sering membaca ungkapan-ungkapan semacam itu, seakan-akan sumpah mubahalah itu sesuatu yang mudah dilakukan. Sebenernya, masing-masing harus melakukan introspeksi apakah memang dia hanya untuk menjaga image, menjaga seakan-akan tidak melakukan kesalahan atau memang betul-betul tidak melakukan kesalahan betul. Kalau hanya untuk menjaga image, ya berarti dia akan mendapatkan kutukan betul dari Allah," ucapnya.

"Ada juga mungkin yang merasa bahwa sumpah mubahalah itu sumpah yang dibuat main-main, ini juga nggak bisa sumpah dibuat main-main, artinya itu memainkan kalimat Allah, memainkan firman Allah, sehingga ini juga tidak diperbolehkan, ini juga sangat berbahaya kalau orang memainkan," tambahnya.

Noor Achmad menjelaskan bahwa lebih baik insan muslim menghindari sumpah mubahalah. Musyawarah secara rasional menurut Noor Achmad masih bisa menyelesaikan permasalahan.

"Apa yang dilakukan teman-teman sesama muslim, hindarilah untuk menggunakan mubahalah kalau memang bisa diselesaikan dengan musyawarah, cara-cara yang rasional. Apalagi kalau itu dilakukan dengan cara emosional, misalnya saja tantang menantang dengan satu yang lain secara emosional menggunakan mubahalah," ungakpnya.

Kerap digunakannya mubahalah dalam ranah konflik politik pun dilihat hanya 'main-main'. Noor Achmad mengingatkan agar hati-hari berucap mubahalah meski dalam konflik politik.

"Itulah sumpah tersebut kemudian dibuat main-main, seakan-akan mudah dilakukan dan untuk melakukan legitimasi atau untuk melakukan cara menyembunyikan diri, cara untuk melakukan legalisasi dari apa yang dilakukan. Jadi, legitimasi dari sumpah itu harus, sekali lagi, harus hati-hati meski pun politik," tegasnya.

"Kadang orang mengatakan ini karena politik, bisa diucapkan belum tentu bisa dilakukan, tapi kalau sumpah itu nggak bisa, sumpah itu kalau memang itu dilakukan betul dia tidak, ya itu akan dikabulkan oleh Allah, sehingga kami mengingatkan selaku MUI, jangan mudah untuk mengucapkan, menantang masing-masing untuk melakukan sumpah mubahalah, karena kutukan Allah itu akan langsung dikabulkan apalagi itu kalau dibuat main-main," imbuh Noor Achmad.

Selain Marzuki Alie, momen tantangan sumpah mubahalah di kancah perpolitikan Indonesia pernah diutarakan Anas Urbaningrum, Buni Yani, Ahmad Dhani, Pipin Sopian, Habib Rizieq, dan Ade Armando.

Halaman

(eva/lir)