Ada Apa di Balik Rivalitas Demokrat-PDIP yang Tak Pernah Usai?

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Jumat, 19 Feb 2021 07:43 WIB
SBY dan Megawati penganugerahan doktor kehormatan pada Ketua MPR Taufiq Kiemas di Gedung MPR/DPR, Maret 2013
SBY dan Megawati (Foto: dok. Setneg)

Partai Demokrat versus PDIP sebelumnya panas lagi. Semua berawal dari cerita soal 'SBY bilang Megawati kecolongan'. Perihal SBY bilang Megawati kecolongan ini disampaikan mantan Sekjen Partai Demokrat Marzuki Alie. Menurut Marzuki, pada 2004, SBY saat itu mengajaknya bertemu di hotel dan terjadilah obrolan soal 'Megawati kecolongan' ini.

"Pak SBY menyampaikan, 'Pak Marzuki, saya akan berpasangan dengan Pak JK. Ini Bu Mega akan kecolongan dua kali ini'. Kecolongan pertama, dia yang pindah, kecolongan kedua dia ambil Pak JK. Itu kalimatnya. 'Pak Marzuki orang pertama yang saya kasih tahu. Nanti kita rapat begini-begini'. Ada beberapa yang disampaikan ke saya, 'nanti saya kenalkan ini, nanti gini'," ucap Marzuki Alie.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menanggapi cerita soal 'SBY bilang Megawati kecolongan dua kali' dengan mengutip semboyan Sanskerta 'Satyameva Jayate', yang bermakna hanya kebenaran yang berjaya. Hasto menyinggung langkah SBY pada 2004 yang disebutnya bertindak seakan-akan dizalimi.

"Dalam politik, kami diajari moralitas politik, yaitu satunya kata dan perbuatan. Apa yang disampaikan oleh Marzuki Alie tersebut menjadi bukti bagaimana hukum moralitas sederhana dalam politik itu tidak terpenuhi dalam sosok Pak SBY. Terbukti bahwa sejak awal Pak SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri, termasuk istilah 'kecolongan dua kali', sebagai cermin moralitas tersebut," kata Hasto.

Sementara itu, Ketua Bappilu Partai Demokrat Andi Arief menyebut pernyataan Marzuki Alie soal SBY bilang Megawati kecolongan ialah 'pernyataan hantu'. 'Hantu' dalam hal ini 'mengarang bebas'.

"Kenapa hantu, karena Marzuki mengarang bebas. Lebih mengejutkan saya, ternyata ada dendam PDIP terhadap SBY karena sebagai menantu Jenderal Sarwo Edhie Wibowo. Dendam ideologis?" sebut Andi Arief kepada wartawan.

Andi Arief meminta Hasto tak mengadu SBY dengan Megawati. Dia juga berharap tidak ada bully terhadap sosok yang pernah menjabat presiden.

"Sebaiknya Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto jangan membentur-benturkan mantan presiden Ibu Mega dan Pak SBY. Biarlah mereka berdua menjadi panutan bersama, sebagai yang pernah berjasa buat sejarah politik kita. Kader Partai Demokrat sejak lama didoktrin untuk tidak mem-bully mantan presiden," ucap dia.

Halaman

(rfs/imk)