Ada Apa di Balik Rivalitas Demokrat-PDIP yang Tak Pernah Usai?

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Jumat, 19 Feb 2021 07:43 WIB
SBY dan Megawati penganugerahan doktor kehormatan pada Ketua MPR Taufiq Kiemas di Gedung MPR/DPR, Maret 2013
SBY dan Megawati (Foto: dok. Setneg)
Jakarta -

Perseteruan politik Partai Demokrat (PD) dan PDI Perjuangan (PDIP) kembali terjadi di tingkat nasional dengan kemunculan cerita dari Marzuki Alie. Rivalitas PD dan PDIP ini dinilai tak kunjung tuntas.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi Prayitno menilai ada cerita yang tak tuntas antara PD dan PDIP serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri. Isu yang diributkan dua kubu belakangan ini dinilai tak jelas.

"Pertama, ini wujud rivalitas yang tak kunjung usai. Macam 'musuh bebuyutan politik' yang selalu menghadap-hadapkan PDIP dengan Demokrat dan Megawati versus SBY. Ada cerita yang tak tuntas di antara keduanya. Apalagi yang diributkan belakangan ini tak jelas isunya apa," kata Adi kepada wartawan, Kamis (18/2/2021).

Menurut Adi, cerita Marzuki Alie pun dinilai tak jelas maksudnya soal Megawati kecolongan dua kali pada 2004. SBY dikaitkan dengan pencitraan.

"Pernyataan Marzuki Alie soal 'Megawati kecolongan dua kali' tak jelas maksudnya apa. Ceritanya tak detail. Tiba-tiba dikaitkan dengan SBY yang suka pencitraan dengan politik playing victim," ujarnya.

Konflik Partai Demokrat ini, kata Adi, dinilai bentuk counter attack karena kerap mengkritik pemerintah. Marzuki Alie, kata Adi, terkesan memunculkan cerita SBY dengan Megawati.

"Kedua, ini serangan balik ke Demokrat yang aktif mengkritik pemerintah, terutama isu kudeta Demokrat yang mencoba 'menyeret' Istana dalam pusaran konflik internal partai Mercy. Apalagi Marzuki Alie terkesan tiba-tiba bikin testimoni soal pengakuan eksklusif SBY ke dirinya tentang kecolongan Megawati," ucap Adi.

Sementara itu, pakar politik Hendri Satrio atau yang akrab disapa Hensat menyebut ada pihak yang ingin menarik perhatian SBY dan Megawati. Pihak yang vokal membela SBY dan Megawati, kata Hensat, ingin mendapat perhatian.

"Menurut saya, ini ada yang ingin menarik perhatian SBY, dan ada yang ingin menarik perhatian Bu Mega, gitu. Sebenarnya kan dua-duanya, setelah membela SBY dan Megawati, kemudian mereka pasti dapat perhatian SBY maupun dari Megawati," sebut Hensat.

Bagi Hensat, usaha cari perhatian (caper) ini berasal dari masing-masing anak buah SBY dan Megawati. SBY dan Megawati dinilai lebih baik menertibkan anak buah masing-masing.

"Ini sih usaha caper anak buah masing-masing saja, jadi sudah, menurut saya, SBY dan Megawati nggak usah ikut ke dalam pertarungan antaranak buahnya. Kan dua-duanya adalah (mantan) Presiden Republik Indonesia. Sebaiknya juga bisa dikontrollah anak buahnya, cobalah berdebat untuk yang bisa memajukan Indonesia," imbuhnya.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya:

Lihat juga Video: Gerindra Balik Curiga ke PD Mungkin AHY Mau Maju Pilgub DKI

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2