Round-Up

Serunya Prediksi Pilgub DKI Bila Anies Lawan Risma

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 19 Feb 2021 06:56 WIB
Ilustrasi Anies Baswedan dan Tri Rismaharini (Repro detikcom)
Foto: Ilustrasi Anies Baswedan dan Tri Rismaharini (Repro detikcom)
Jakarta -

Pembahasan Pilgub DKI sudah panas sejak sekarang padahal baru digelar tahun 2024 mendatang. Kini yang ramai dibahas adalah prediksi pertarungan antara Anies Baswedan dan Tri Rismaharini.

Nama keduanya memang sempat muncul di survei yang digelar Median. Hasilnya menunjukkan nama Tri Rismaharini yang saat ini menjabat sebagai Menteri Sosial (Mensos) berada tepat di bawah nama Anies Baswedan terkait urusan Pilgub DKI Jakarta. Jika dilakukan head to head, selisih elektabilitas mereka hanya terpaut 9%.

Populasi survei Median ini adalah warga DKI Jakarta yang memiliki hak pilih dengan target sampel 400 responden, yang dipilih dengan teknik multistage random sampling. Waktu survei dilakukan pada 31 Januari hingga 3 Februari 2021. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka dan menjalankan protokol kesehatan. Margin of error survei ini +/- 4,9%, dengan tingkat kepercayaan 95%.

Parpol-parpol pun mulai bersuara. PKB menilai posisi Anies di Pilgub DKI sangat terancam.

"(Anies) sangat terancam," kata Ketua DPP PKB Faisol Riza kepada wartawan, Kamis (18/2/2021).

Faisol meyakini Risma berpotensi besar menjadi pemimpin DKI Jakarta selanjutnya. Ia mengatakan justru posisi wakil gubernurlah yang saat ini sedang diperebutkan.

Menurut Faisol, masa jabatan Anies sebagai pejabat publik akan berakhir pada 2022, sedangkan Risma akan terus tampil sebagai menteri hingga 2023. Karena itu, kondisi tersebut dinilai akan berpengaruh terhadap elektabilitas Anies ataupun Risma menjelang perhelatan Pilgub DKI.

"Bu Risma akan jadi kandidat terkuat Pilgub DKI," ujar Ketua Komisi VI DPR RI itu.

"Hampir pasti Gubernur DKI mendatang Risma. Sekarang yang diperebutkan adalah wagub," imbuhnya.

Keyakinan PKB ini menuai komentar parpol lain. Ada yang memprediksi Pilgub DKI 2024 bakal seru dengan persaingan keduanya.

Simak video 'Survei Median soal Pilgub DKI: Elektabilitas Risma Naik Tajam':

[Gambas:Video 20detik]



Selengkapnya bisa disimak di halaman berikutnya.

PPP menilai Risma memiliki potensi menjadi ancaman bagi Anies dalam Pilgub DKI yang akan datang. "Potensinya (Risma) ada. Bahkan nama Bu Risma tahun 2017 sempat mencuat menjelang Pilkada DKI," ujar Ketua DPP PPP Achmad Baidowi atau Awiek kepada wartawan, Kamis (18/2/2021).

Awiek mengakui Risma memiliki potensi besar menang di Pilgub DKI, tapi ia juga tidak memungkiri nama Anies Baswedan masih melekat di sebagian masyarakat. Menurutnya, Pilgub DKI akan sangat seru.

"Potensi Bu Risma besar, tapi magnet Anies juga masih tinggi. Akan seru," katanya.

Menurut Awiek, modal elektabilitas Risma yang tinggi saat ini dapat menjadi bekal di Pigub DKI Jakarta. Meskipun Awiek menilai Risma memiliki potensi besar dalam Pilgub DKI Jakarta, ia menilai Risma masih harus membuktikan kinerja sebagai Mensos.

"Bu Risma harus membuktikan kinerjanya sebagai Mensos. Namun elektabilitasnya itu menjadi modal berharga," ujarnya.

"Apalagi Anies Baswedan tidak sampai di angka 50 persen. Untuk Jakarta dibutuhkan tipikal pemimpin yang cakap kerja teknis yang mau turun ke lapangan langsung, bukan sebaliknya," imbuhnya.

Sementara itu, PKS yakin semua pihak masih berpeluang. PKS menilai posisi Anies masih kuat sebagai petahana.

"Semua masih punya peluang. Tergantung kemampuannya memberi manfaat bagi warga DKI. Mas Anies kuat karena incumbent (petahana)," kata Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera saat dihubungi, Kamis (18/2/2021).

Mardani tidak menampik terkait posisi Risma sebagai penantang yang tangguh untuk Anies di Pilgub DKI Jakarta mendatang. Namun dia mengingatkan jabatan Mensos yang kerap menjadi terdakwa.

"Bu Risma penantang yang tangguh, apalagi Mensos. Walau hati-hati karena banyak Mensos jadi terdakwa," ucapnya.

Mardani lalu mengungkap posisi Anies kuat jika Pilgub DKI Jakarta diadakan pada 2022. Namun jika digelar pada 2024, semua masih berpeluang, termasuk kader PKS.

"Jika 2022 peluang Mas Anies besar. Jika 2024 semua masih berpeluang. PKS juga menyiapkan kadernya," ujarnya.

Lalu, apa kata PDIP? Ketua DPP PDIP Perjuangan Djarot Saiful Hidayat mengatakan parpolnya memiliki banyak kader berprestasi, termasuk Risma.

"Tentu saja partai bangga punya banyak kader partai yang berprestasi seperti Ibu Risma, Mas Hendy, Mas Rudy, Mas Ganjar, Mas Anas, dan lain-lain," kata Djarot.

Djarot menegaskan PDIP saat ini masih melakukan konsolidasi internal partai. Ia mengatakan para kader PDIP juga melalukan gerakan turun ke lapangan.

"Kita masih fokus untuk konsolidasi internal partai, semua kader partai di tiga pilar partai lakukan gerakan turun ke bawah untuk penanaman pohon dan bersih-bersih di DAS Ciliwung untuk cegah banjir, penanganan dampak bencana di beberapa wilayah dan pemberdayaan ekonomi rakyat," tuturnya.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai Anies dan Risma memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Anies dinilai memiliki keunggulan karena menjadi petahana.

"Di banyak pilkada, petahana ini diuntungkan. Karena memang menguasai panggung politik lokal," kata Adi saat dihubungi, Kamis (18/2/2021).

Namun, Adi mengatakan hasil survei elektabilitas yang menyebut Anies unggul dengan angka sekitar 40 persen merupakan peringatan bagi Anies. Sebab, menurutnya, elektabilitas seorang petahana akan dianggap aman saat menyentuh angka 65 persen.

"Cuma kan problemnya angka 40 persen Anies itu untuk ukuran petahana tidak aman. Itu alarm bagi Anies untuk mengamankan tingkat elektabilitas minimal 65 persen bagi petahana. Anies memang unggul di antara kandidat yang lain, tapi keunggulan itu tidak aman, itu alarm, lampu merahlah kira-kira begitu untuk meningkatkan kinerjanya," ujarnya.

Lebih lanjut, Adi menyoroti masa jabatan Anies sebagai pejabat publik yang akan berakhir pada 2022. Anies pun dinilai perlu bekerja keras agar tetap memiliki kesan yang kuat di masyarakat.

"Anies juga harus berpikir bahwa kalau betul lawan tandingnya Risma, Anies butuh kerja keras di sisa masa jabatannya. Karena setelah 2022, Anies nggak punya panggung politik. Nganggurlah kira-kira begitulah," ujarnya.

Sosok Risma dinilai sangat cepat mendapat elektabilitas dalam survei soal Pilgub DKI. Padahal, Risma baru menjadi Mensos sejak akhir Desember 2020.

"Risma baru sebulan-dua bulan di Jakarta, elektabilitasnya sudah hampir menempel Anies. Selisihnya kan cuma hampir 10 persen. Baru dua bulan loh di Jakarta Risma sebagai Mensos posisinya," ujarnya.


Adi juga menilai panggung politik yang dimiliki Risma sebagai Mensos menjadi suatu keunggulan tersendiri. Terlebih, Anies sudah tidak memiliki panggung politik pada 2022.

"Risma akan tetap menjadi orbit pemberitaan karena posisinya sebagai Mensos sampai 2024. Anies 2022 sudah sepi dari pemberitaan. Itu penting sebenernya. Makanya elektabilitas Risma yang dirilis kemarin itu tentu jadi perhatian serius bagi Anies, bahwa dia cuma 2 bulan di sini sudah elektabilitasnya bisa menguntit Anies ya," jelasnya.

Kendati demikian, Risma pun dinilai masih memiliki kekurangan untuk menang dalam Pilgub DKI Jakarta. Menurut Adi, salah satu penghalang Risma mengalahkan Anies di Pilgub DKI mendatang adalah Risma seorang perempuan.

"Cuma nilai minusnya bagi Risma itu sepertinya tingkat penerimaan publik terhadap sosok calon perempuan itu rendah di Jakarta ini," katanya.

Karena itu, Adi mengimbau Risma membuat terobosan selama menjabat Mensos. Jika terobosan Risma memberantas kemiskinan berhasil, Risma akan semakin mendapat penerimaan di mata publik.

"Kalau Bu Risma memberikan perhatian khusus ke Jakarta, misalnya mengurangi angka kemiskinan. Orang-orang telantar juga bisa mendapat akses pekerjaan, orang miskin kota juga hidupnya layak. Saya kira publik juga akan memalingkan wajahnya ke Bu Risma sebagai sosok calon layak untuk diperhitungkan," ucapnya.

(imk/imk)